Ketenangan Hati
Sudan lama Abu nawas tidak dipanggil ke istana untuk menghadap Baginda.
Abunawas juga sudah lama tidak muncul di kedai teh. Kawan-kawan Abunawas
banyak yang merasa kurang bergairah tanpa kehadiran Abu nawas. Tentu saja
keadaan kedai tak semarak karena Abu nawas si pemicu tawa tidak ada.
Suatu hari ada seorang laki-laki setengah baya ke kedai teh menanyakan Abu
nawas. la mengeluh bahwa ia tidak menemukan jalan keluar dari rnasalah pelik
yang dihadapi.
Salah seorang teman Abunawas ingin mencoba menolong.
"Cobalah utarakan kesulitanmu kepadaku barang-kali aku bisa membantu." kata
kawan Abunawas.
"Baiklah. Aku mempunyai rumah yang amat sempit. Sedangkan aku tinggal
bersama istri dan kedelapan anak-anakku. Rumah itu kami rasakan terlalu
sempit sehingga kami tidak merasa bahagia." kata orang itu membeberkan
kesulitannya.
Kawan Abunawas tidak mampu memberikan jalan keluar, juga yang lainnya.
Sehingga mereka menyarankan agar orang itu pergi menemui Abunawas di
rumahnya saja.
Orang itu pun pergi ke rumah Abunawas. Dan kebetulan Abu Nawas sedang
mengaji. Setelah mengutarakan kesulitan yang sedang dialami, Abunawas
bertanya kepada orang itu.
"Punyakah engkau seekor domba?"
"Tidak tetapi aku mampu membelinya." jawab orang itu.
"Kalau begitu belilah seekor dan tempatkan domba itu di dalam rumahmu."
Abunawas menyarankan.
Orang itu tidak membantah. la langsung membeli seekor domba seperti yang
disarankan Abunawas.
Beberapa hari kemudian orang itu datang lagi menemui Abu Nawas.
"Wahai Abunawas, aku telah melaksanakan saranmu, tetapi rumahku
bertambah sesak. Aku dan keluargaku merasa segala sesuatu menjadi lebih
buruk dibandingkan sebelum tinggal bersama domba." kata orang itu mengeluh.
"Kalau begitu belilah lagi beberapa ekor unggas dan tempatkan juga mereka di
dalam rumahmu:" kata Abunawas.
Orang itu tidak membantah. la langsung membeli beberapa ekor unggas yang
kemudian dimasukkan ke dalam rumahnya. Beberapa hari kemudian orang itu
datang lagi ke rumah Abu Nawas.
"Wahai Abu Nawas,aku telah melaksanakan saran-saranmu dengan menambah
penghuni rumahku dengan beberapa ekor unggas. Namun begitu aku dan
keluargaku semakin tidak betah tinggal di rumah yang makin banyak
perighuninya. Kami bertambah merasa tersiksa." kata orang itu dengan wajah
yang semakin muram.
"Kalau begitu belilah seekor anak unta dan peliharalah di dalam rumahmu."kata
Abu Nawas menyarankan
Orang itu tidak membantah. la langsung ke pasar hewan membeli seekor anak
unta untuk dipelihara di dalam rumahnya.
Beberapa hari kemudian orang itu datang lagi menemui Abu Nawas. la berkata,
"Wahai Abu Nawas, tahukah engkau bahwa keadaan di dalam rumahku sekarang
hampir seperti neraka. Semuanya berubah menjadi lebih mengerikan dari pada
hari-hari sebelumnya. Wahai Abu Nawas, kami sudah tidak tahan tinggal
serumah dengan binatang-binatang itu." kata orang itu putus asa.
"Baiklah, kalau kalian sudah merasa tidak tahan maka juallah anak unta itu."
kata Abu Nawas.
Orang itu tidak membantah. la langsung menjual anak unta yang baru
dibelinya.
Beberapa hari kemudian Abu Nawas pergi ke rumah orang itu
"Bagaimana keadaan kalian sekarang?" Abu Nawas bertanya.
"Keadaannya sekarang lebih baik karena anak unta itu sudah tidak lagi tinggal
disini." kata orang itu tersenyum. "Baiklah, kalau begitu sekarang juallah
unggas-unggasmu." kata Abu Nawas.
Orang itu tidak membantah. la langsung menjual unggas-unggasnya.
Beberapa hari kemudian Abu Nawas mengunjungi orang itu.
"Bagaimana keadaan rumah kalian sekarang ?" Abu Nawas bertanya.
"Keadaan sekarang lebih menyenangkan karena unggas-unggas itu sudah tidak
tinggal bersama kami." kata orang itu dengan wajah ceria.
"Baiklah kalau begitu sekarang juallah domba itu." kata Abu Nawas.
Orang itu tidak membantah. Dengan senang hati ia langsung menjual
dombanya.
Beberapa hari kemudian Abu Nawas bertamu ke rumah orang itu. la bertanya,
"Bagaimana keadaan rumah kalian sekarang ?" "Kami merasakan rumah kami
bertambah luas karena binatang-binatang itu sudah tidak lagi tinggal bersama
kami. Dan kami sekarang merasa lebih berbahagia daripada dulu. Kami
mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepadamu hai Abu Nawas." kata
orang itu dengan wajah berseri-seri.
"Sebenarnya batas sempit dan luas itu tertancap dalam pikiranmu. Kalau
engkau selalu bersyukur atas nikmat dari Tuhan maka Tuhan akan mencabut
kesempitan dalam hati dan pikiranmu." kata Abu Nawas menjelaskan.
Dan sebelum Abu Nawas pulang, ia bertanya kepada orang itu,
"Apakah engkau sering berdoa ?"
"Ya." jawab orang itu.
"Ketahuilah bahwa doa seorang hamba tidak mesti diterima oleh Allah karena
manakala Allah membuka pintu pemahaman kepada engkau ketika Dia tidak
memberi engkau, maka ketiadaan pemberian itu merupakan pemberian yang
sebenarnya."
Dikutip dari : Kisah Abu Nawas
Posted by : Dermaga hati bagas
Tags : Allah,Muhammad,Tasawuf,Hikam,Athaillah,Ibnu,Kisah
teladan,Sahabat,tabiin,kyai,Syadzili,hasan
5:31 AM | Labels: kisah Teladan | 0 Comments
APAKAH SURGA ITU ABADI???
Banyak sekali tuduhan2 terhadap ulama2 sufi bahwa kaum sufi tidak mengharapkan surga sedangkan dalam Al Quran banyak sekali ayat2 yang menyebutkan imbalan orang2 yg beriman adalah surga Allah, diantara ayat2 itu adalah :
“Innalladziina aamanuu wa’amiluushshaalihaati ulaaika hum khairul bariyyah”
“Jazaa’uhum ‘inda rabbihim jannatu ‘adnin tajri mintahtihal anhaaru khaalidiina fiihaa ‘abadaa….”
“Sesungguhnya orang2 yang beriman & mengerjakan amal yg sholeh merekalah sebaik2nya makhluk”
“Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya……….. “(Al Bayyinah: 98, ayat 7-8)
Sedangkan diantara ucapan kaum sufi saya ambilkan contoh munajat Rabi’ah Ad Da’wiyah : “Ya Allah jika aku mengharap surga-Mu dan menghindar dari neraka-Mu maka binasakanlah diriku”
Mereka beranggapan ucapan2 kaum sufi ini menyesatkan, bid’ah dan lain sebagainya.Nah mari coba kita telaah bersama dengan pandangan terbuka bukan dengan pandangan kontekstual belaka dan tentu saja dengan hati yg selalu mengharap ridho-Nya.Salah satu ayat Al Quran menyebutkan segala sesuatu hakikinya adalah fana’(tiada) :
“Kullu man ‘alaihaa faan”
“Wa Yabqaa Wajhu rabbika Dzul jalaali wal ikraam”
Semua yang ada itu akan binasa
Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan(
Nah didalam ayat ini menunjukkan yg sebenarnya kekal hakiki hanyalah Allah SWT bagaimanapun keabadian surga adalah karena menerima sifat keabadiaan yang maha Abadi.Untuk mempermudah pemahaman kita sebagian ulama sufi kekekalan/keabadiaan menjadi 2:
1.Kekal Ardhi : Kekal karena menerima sifat kekal dari yang Maha Kekal
Contoh : Ruh,Surga,Neraka,Malaikat dsbnya
2.Kekal Hakiki : Kekal memang kekal yg sebenarnya, keabadian-Nya tidak terpengaruh oleh waktu dan zaman dan tidak menerima kekal dari siapapun dan sesuatu apapun.Yaitu zat yg Maha Agung Allah SWT.
Ungkapan2 seperti sufi agung Rabi’ah Ad da’wiyah bukannya mengingkari akan surga dan neraka justru sebalik yang mereka saksikan dan mereka tuju hanyalah Allah SWT,Sang Pencipta surga dan neraka.bagaimana mungkin bintang & bulan akan terlihat ketika mentari bersinar dengan begitu terangnya.Apakah mungkin akan berpaling sang kekasih ketika telah meneguk anggur cinta dari-Nya.
Walaupun tidak salah orang yang beribadah mengharapkan surga akan tetapi peribadatan ini haruslah disandarkan pada Allah SWT,Sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadits:"ketika seorang 'abid beribadah selama 500 tahun memohon surga karena amalan-amalannya begitu banyak,akan tetapi Allah semata-mata memasukkan surga bukan karena amalannya tetapi karena karunia dan rahmat-Nya".(Untuk lebih lengkapnya kisah ini dapat dilihat pada arsip blog dgn judul :menggapai surga dg rahmat Allah)
Tetapi terkadang kebanyakan orang dalam beribadah masih diikuti oleh keinginan2 dan syahwat2 halus apalagi pengandaian terhadap surga diandaikan dengan pemuasan ragawi kita :
misalnya :“cewek itu cantiknya bukan main,apalagi bidadari disurga ya”waah2 bisa 2 pikiran kita jadi tambah mesum(he2222)
Sedangkan mereka yang hanya mengharap ridho & cinta Allah bisa terlepas dari keinginan2 tersebut.Tentu saja untuk menggapai keridhoan dan Cinta Allah dibutuhkan latihan2/riyadhoh dan cobaan2 yg berat sehingga kita menyadari sepenuhnya bahwasanya semua itu dari Allah.termasuk Riyadhoh2 yg dilakukan tak lepas dari karunia Allah SWT.
Untuk urusan ini Penulis sendiri sih kelasnya masih kelas kambing(haaaaa2x)
Saya akhiri tulisan ini dengan mengutip ungkapan hikmat dari Shaikh Abdul Qadir Al jilani : “Jika Surga dan neraka tak tercipta mampukah kamu sujud ikhlas kepada-Nya”
Hanya kepada Allah kita berserah diri!!!
Wallaahu a’lamu bishowaab
Posted by dermagahati bagas
Tag : Allah,Muhammad,Tasawuf,Hikam,Athaillah,Ibnu,Kisah,teladan,
Sahabat,tabiin,kyai,Syadzili,hasan
5:18 AM | Labels: tasawuf | 0 Comments
Muraqabah
Allah ma'ii Allah naazhiri ilayya Allah Syaahidii (Allah menyyertaiku,Allah melihatku,Allah menyaksikanku)inilah salah satu kalimah Seorang ulama sufi yg diajarkan kepada salah seorang muridnya.sebuah kalimat sederhana yang mengajarkan diri untuk selalu merasa diawasi oleh Allah.yah memang setiap saat setiap jiwa2 manusia tak lepas dari pengawasan-Nya.Jika seorang hamba selalu merasa diawasi oleh sang pencipta tak ada lagi tempat untuk bermaksiat kepada-Nya.Karena setiap sudut setiap tempat bahkan hati yg berbisikpun tak lepas dari pengawasan-Nya.Saya nukilkan kisah Shaikh Junaid sbb:
Junaid Al-Baghdadi, seorang tokoh sufi, mempunyai anak didik yang amat ia senangi. Santri-santri Junaid yang lain menjadi iri hati. Mereka tak dapat mengerti mengapa Syeikh memberi perhatian khusus kepada anak itu.
Suatu saat, Junaid menyuruh semua santrinya untuk membeli ayam di pasar untuk kemudian menyembelihnya. Namun Junaid memberi syarat bahwa mereka harus menyembelih ayam itu di tempat di mana tak ada yang dapat melihat mereka. Sebelum matahari terbenam, mereka harus dapat menyelesaikan tugas itu.
Satu demi satu santri kembali ke hadapan Junaid, semua membawa ayam yang telah tersembelih. Akhirnya ketika matahari tenggelam, murid muda itu baru datang, dengan ayam yang masih hidup. Santri-santri yang lain menertawakannya dan mengatakan bahwa santri itu tak boleh melaksanakan perintah Syeikh yang begitu mudah.
Junaid lalu meminta setiap santri untuk menceritakan bagaimana mereka melaksanakan tugasnya. Santri pertama berkata bahwa ia telah pergi membeli ayam, membawanya ke rumah, lalu mengunci pintu, menutup semua jendela, dan membunuh ayam itu. Santri kedua bercerita bahwa ia membawa pulang seekor ayam, mengunci rumah, menutup jendela, membawa ayam itu ke kamar mandi yang gelap, dan menyembelihnya di sana. Santri ketiga berkata bahwa ia pun membawa ayam itu ke kamar gelap tapi ia juga menutup matanya sendiri. Dengan itu, ia fikir, tak ada yang dapat melihat penyembelihan ayam itu. Santri yang lain pergi ke hutan yang lebat dan terpencil, lalu memotong ayamnya. Santri yang lain lagi mencari gua yang amat gelap dan membunuh ayam di sana.
Tibalah giliran santri muda yang tak berhasil memotong ayam. Ia menundukkan kepalanya, malu karena tak dapat menjalankan perintah guru, “Aku membawa ayam ke rumahku. Tapi di rumahku tak ada tempat di mana Dia tak melihatku. Aku pergi ke hutan lebat, tapi Dia masih bersamaku. Bahkan di tengah gua yang teramat gelap, Dia masih menemaniku. Aku tak boleh pergi ke tempat di mana tak ada yang melihatku.
Semoga Allah mengkaruniakan sifat muraqabah kepada kita sehingga limpahan kecintaan-Nya selalu menyertai kita.
By :dermagahati bagas
Allah,Muhammad,tasawuf,syadzili,al,ibnu,athaillah,kisah,teladan,hikam
11:59 PM | Labels: tasawuf | 0 Comments
Karomah Sulthonul auliya shaikh Abu Hasan Asy Syadzili
Sulthonul Auliya' Syaikh Abul Hasan Asy Syadzili ra adalah seorang yang dianugerahi karomah yang sangat banyak, tidak ada yang bisa menghitung karomahnya kecuali Allah SWT. Dan sebagian dari karomah beliau antara lain adalah :
a. Pengikut thoriqoh Syadziliyah telah dipilih di lauhil mahfudz
b. Pengikut thgoriqoh syadziliyah apabila jadzab/majdub akan cepat kembali seperti sedia kala.
c. Seluruh Wali Qutub yang diangkat sesudah masa syaikh Abul Hasan Asy Syadzili ra akan diambil dari golongan ahli thoriqoh Sadziliyah.
Allah,muhammad,kisah,tabiin,swt,kyai,ibnu
,hati,dermaga,bagas,athaillah,al,syadzili,sahabat,hikam
tasawuf,sragen,teladan
11:44 PM | Labels: Kisah sahabat tabiin kyai ulama | 24 Comments
Sekedar..........
Waaah dah lama nggak OL.Doain saya ya!!!!hampir jadi bapak, semoga terlahir anak yg sholih dan sholihah amiin yaa robbal Alamiin.
By the Way 1 th ini telah menikah 2 x. pertama dengan istri saya tercinta kedua dengan thariqah syadziliyyah yg semoga saya selalu istiqomah berjalan dijalurnya.alhamdulillahi Rabbil Alamiin, Amiin Amiin Ya Rabbal Aalamiin.
Bagi para pembaca yang tertarik ikut di jalur syadziliyyah yang dinisbahkan namanya dari Syeikh Qutb Agung Abu Hasan Asy Syadzili salah satunya dapat menghubungi
Pondok PETA Tulungagung
Jalan Wahid Hasyim No 27 tulungagung
posted by dermagahatibagas
d7ia53xhsn
8:39 PM | Labels: Serba serbi | 0 Comments
SANDARKAN NIAT HANYA PADA ALLAH SWT
“‘An `Umar ibnul khatthab radhiyallahu `anhu qaala sami`tu Rasuulullahi Shalallaahu `alaihi Wassalaam yaquulu : innamal a`malu binniyah,wa innamaa li imrii maa nawaa faman kaanat hijratuhu ilallaahi wa rasuulihi fahijrotuhu ilallaahi warasuulihi waman kaanat hijratuhu ilaa dunyaa yushiibuhaa au imraatin yatazawajjuhaa,fahijratuhu ilaa maa hajara ilaihi (Bukhari wal Muslim)
dari `Umar bin khatthab radhiyallaahu `anhu berkata saya mendengar Rasulullah bersabda : sesungguhnya tiap amal itu tergantung pada niatnya dan setiap perkara itu itu tergantung apa yg diniatkannya maka barang siapa yg hijrahnya tulus karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrah itu diterima Allah dan Rasul-Nya.Dan siapa yg niat hijrahnya untuk dunia yg dikejarnya atau wanita yg akan dinikahinya maka niat hijrah itu terhenti pada apa yg ia tuju(hadits riwayat Bukhari Muslim)
niat merupakan hal yg sangat mendasar dalam peribadatan dan segala perbuatan kita.sebagaimana yg dijelaskan hadits diatas yg secara lahirnya melakukan perbuatan yg sama tetapi sangat berbeda disisi Allah dikarenakan niatnya.
Nah,sekarang kalau dikaitkan dengan kehidupan dan cara pandang umum kebanyakan masyarakat selama ini(saya ambil contoh2 yg saya ketahui dengan pengetahuan hamba yg sangat terbatas ini) :
1. Bahwasanya niat perbuatan jahat selama tidak dilakukan maka dosanya tidak akan dicatat.(tidak dilakukan perhitungan amal) nah pandangan kebanyakan orang semacam ini akan meringankan betapa pentingnya niat saya ambilkan sebuah contoh :”seseorang yg berniat/berkeinginan untuk berzina akan tetapi dia seorang yg masih melakukan sholat dan belum melakukan perbuatan zina tersebut,terkadang ketika sholat keinginan perbuatan maksiyat tersebut selalu berkeliaran dalam pikirannya.Wah kalau begini kan jadi repot sholatpun hancur dan tak bernilai disisi-Nya”
2. Seorang yg berniat kemudian merasa bisa dengan kekuatannya sendiri mampu melaksanakan niat tersebut dan hasilnya diserahkan pada Allah SWT lupa bahwasanya kekuatan untuk melaksanakan segala sesuatu adalah karunia Allah semata. “Laa haula walaa quwwata illa billah”Tiada daya dan kekuatan kecuali kehendak Allah
3. Seorang yg berniat melaksanakan perbuatan baik akan tetapi mengalami kebingungan dan kebimbangan manakala niat tersebut sulit/tidak terlaksana, lupa bahwasanya sesuatu itu tak lepas dari Qadar-Nya.”Innallaaha `alaa kulli syaiin qadiir”Sesungguhnya Allah menguasai segala sesuatu.
Sebagaimana kalam hikmat al hikam ibnu Athaillah :
TIDAK SIA-SIA SESUATU MAKSUD APABILA DISANDARKAN KEPADA ALLAH S.W.T DAN TIDAK AKAN TERCAPAI TUJUAN JIKA DISANDARKAN KEPADA DIRI SENDIRI.
hamba Allah s.w.t yang mempunyai maksud yang baik ternyata gagal melaksanakan maksudnya apabila dia bersandar kepada kekuatan dirinya sendiri karena Allah s.w.t yang menetapkan sesuatu perkara, hanya Dia saja yang dapat mengubahnya. Segala kekuatan, baik dan buruk, semuanya datang daripada-Nya. Oleh yang demikian jika mahu menghadapi sesuatu kekuatan yang datang dari-Nya mestilah juga dengan kekuatan-Nya. Kekuatan yang paling kuat bagi menghadapi kekuatan yang dipunyai oleh dunia ialah kekuatan berserah diri kepada Allah s.w.t. Kembalikan semua urusan kepada-Nya. Rasulullah s.a.w telah memberi pengajaran dalam menghadapi bencana dengan ucapan dan penghayatan:
"Inna lillahi wa inna ilaihi raaji`uun"Kami datang dari Allah. Dan kepada Allah kami kembali
Tak ada jalan terbaik dalam segala niat,gerak, dan perbuatan kita selain berserah diri total kepada Allah.maksud menyerah diri kepada Allah s.w.t, bersandar kepada-Nya dan menyerahkan segala urusan kepada-Nya mesti difahami dengan mendalam yaitu : “minallaahi billaahi ilaallaahi”dari Allah dengan Allah untuk Allah bahwasanya yg menggerakkan niat dan melaksanakan hal yg berkenaan dengan niat tersebut adalah Allah SWT dan segala sesuatunya adalah untuk Allah SWT.
Ya Allah Ya Tuhanku jadikanlah kami termasuk golongan orang2 yg berserah diri kepada-Mu.Amiin ya Rabbal`alamiiin.
Referensi : Al quran,Al lu`lu wal marjan : penyusun Muhammad fuad `Baqi,Al hikam : penyusun Ibnu Athaillah,Kedai sufi kang luqman : K.H Luqman Hakim
iaqyjvfe7c
dermaga,bagas,athaillah,al,syadzili,sahabat,hikam
tasawuf,sragen,teladan
5:00 PM | Labels: Ya Allah Ya Rabbal `Alamiin | 0 Comments
Al qomah dibakar Rasulullah SAW
Begitu melihat keadaan Al-Qamah tergolek diranjangnya, Nabi bertanya kepada isteri Al-Qamah :"Masihkah kedua orang tuanya?" tanya Nabi.
"Masih ya Rasulullah," tetapi tinggal ibunya yang sudah tua renta," jawab isterinya."
Di mana dia sekarang?"
"Di rumahnya, tetapi rumahnya jauh dari sini."
Tanpa banyak bicara , Rasulullah SAW lalu mengajak sahabatnya menemui ibu Al-Qamah mengabarkan anaknya yang sakit parah. "Biarlah dia rasakan sendiri", ujar ibu Al-Qamah. "Tetapi dia sedang dalan keadaan sekarat, apakah ibu tidak merasa kasihan kepada anakmu ?" tanya Nabi.
"Dia berbuat dosa kepadaku," jawabnya singkat.
"Ya, tetapi maafkanlah dia. Sudah sewajarnya ibu memaafkan dosa anaknya," bujuk Nabi.
"Bagaimana aku harus memaafkan dia ya Rasulullah jika Al-Qamah selalu menyakiti hatiku sejak dia memiliki isteri," kata ibu itu.
"Jika kau tidak mau memaafkannya, Al-Qamah tidak akan bisa mengucap kalimat syahadat, dan dia akan mati kafir," kata Rasulullah.
"Biarlah dia ke neraka dengan dosanya," jawab ibu itu. Merasa bujukannya tidak berhasil meluluhkan hati ibu itu, Rasulullah lalu mencari kiat lain. Kepada sahabat Bilal Nabi berkata : "Hai bilal, kumpulkan kayu bakar sebanyak-banyaknya," perintah Nabi.
"Untuk apa kayu bakar itu Rasulullah," tanya Bilal keheranan."Akan kugunakan untuk membakar Al-Qamah, dari pada dia hidup tersiksa seperti itu, jika dibakar dia akan lebih cepat mati, dan itu lebih baik karena tak lama menanggung sakit", jawab Rasulullah. Mendengar perkataan Nabi itu, ibu Al-Qamah jadi tersentak. Hatinya luluh membayangkan jadinya jika anak lelaki di bakar hidup-hidup. Ia menghadap Rasulullah sambil meratap, "Wahai Rasulullah, jangan kau bakar anakku," ratapnya. Legalah kini hati Rasulullah karena bisa meluluhkan hati seorang ibu yang menaruh dendam kepada anak lelakinya. Beliau lalu mendatangi Al-Qamah dan menuntunya membaca talkin. Berbeda dengan sebelumnya, mulut Al-Qamah lantas bergerak membacakan kalimat dzikir membaca syahadat seperti yang dituntunkan Nabi. Jiwanya tenang karena dosanya telah diampuni ibu kandungnya. Al-Qamah kemudian menghembuskan nafasnya yang terakhir dengan fasih mengucapkan kalimat syahadat. Ia meninggal dalam keadaan khusnul khatimah. Memang, surga adalah di bawah telapak kaki ibunda.
4:57 PM | Labels: Muhammad Shalallaahu `Alaihi Wasallaaam | 0 Comments
