Kisah Keislaman Saad bin Abi Waqqash

Di zaman Rasulullah tersebutlah seorang pemuda berusia tujuh belas tahun yang bernama Saad bin Abi Waqqash. Suatu hari pemuda itu berkata, "Pada suatu malam, di tahun ini, saya bermimpi seolah-olah tenggelam di dalam kegelapan yang bertumpuk-tumpuk. Ketika saya terbenam di dalam kegelapan itu, tiba-tiba ada cahaya bulan yang menerangiku. Saya kemudian mengikuti arah cahaya itu dan saya dapati di sana ada sekelompok manusia, di antara mereka terdapat Zaid bin Haritsash, Ali bin Abi Thalib, dan Abu Bakar Ash-Shidiq. Saya bertanya, "Sejak kapan kalian ada di sini?" Mereka menjawab, "Satu jam."
Manakala siang telah muncul, saya mendengar suara dakwah Muhammad saw. kepada Islam. Saya meyakini bahwa saya sekarang berada di dalam kegelapan dan dakwah Muhammad saw. adalah cahaya itu. Maka, saya pun mendatangi Muhammad dan aku dapati orang-orang yang kujumpai dalam mimpi, ada di samping beliau. Maka, aku pun masuk Islam.
Tatkala ibu Sa'ad mengetahui hal ini, dia mogok makan dan minum, padahal Sa'ad sangat berbakti kepadanya sehinga dia merayunya setiap waktu mengharapkannya untuk mau makan walau hanya sedikit, tapi ibunya menolak. Manakala Sa'ad melihat ibunya tetap teguh berpendirian, dia berkata kepadanya, "Wahai ibu! Sesungguhnya saya sangat cinta kepadamu, namun saya lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya. Demi Allah, seadainya engkau mempunyai seratus nyawa lalu keluar dari dirimu satu persatu, aku tidak akan meninggalkan agamaku ini demi apapun juga."
Tatkala sang ibu melihat keteguhan hati anaknya, dia pun menyerah lalu kembali makan dan minum meskipun tidak suka. Allah kemudian menurunkan ayat tentang mereka yang artinya, "Jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kaum mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik." (Luqmaan: 15)
Maha Benar Allah yang Maha Agung.
Sumber: Asyabalunal 'Ulama (65 Kisah Teladan Pemuda Islam Brilian), Muhammad Sulthan.
10:22 AM | Labels: Kisah sahabat tabiin kyai ulama | 0 Comments
Sebungkus Kurma Abu Aqil
Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Abu Aqil sedemikian resah seperti hari itu. Dia tenggelam dalam fikirannya tanpa mempedulikan apa yang terjadi di sekitarnya. Dia seolah-olah tidak mendengar bunyi apapun dan tidak melihat sesuatupun. Dia melangkah ke arah rumahnya dengan cepat. Matanya memandang tanah dan mulutnya kelihatan komat-kamit mengatakan sesuatu. Dia melewati lorong sempit sebelum akhirnya tiba ke rumahnya. Dengan menarik nafas yang dalam, Abu Aqil lalu bersandar di sebatang pohon tua di tengah halaman rumah.
Isterinya menyadari kekhawatiran yang melanda suaminya itu dan bertanya, “Suamiku, apa yang terjadi?” Abu Aqil kemudian berjalan masuk ke rumahnya. Karena kelelahan, dia bersandar ke dinding rumahnya, lalu berkata, “Musuh Tuhan berniat untuk memerangi kita. Tentara muslim sudah disiagakan untuk melawan musuh. Tetapi, tentara kita tidak punya bekal dan makanan. Kami sedang berada di masjid ketika Nabi membacakan sebuah ayat suci Al-Quran dan meminta kaum muslimin untuk memberikan bantuan sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing kepada tentara Islam.”
Isteri Abu Aqil bertanya, “Apakah bunyi ayat itu?” Abu Aqil menutup matanya dan setelah berpikir sejenak, dia membaca ayat ke-11 dari surat Al-Hadiid yang artinya, “Siapa saja yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, akan diberi Allah balasan pinjaman yang berlipatganda dan dia akan memperoleh pahala yang banyak.”
Isterinya dengan pandangan kecewa menatap lantai ruangan kamar dan berkata, “Engkau adalah pemimpin rumah ini dan engkau lebih mengetahui bahwa kita tidak punya harta dan simpanan apapun untuk kita berikan di jalan Tuhan. Abu Aqil menjawab, “Tetapi, kita harus turut melibatkan diri dalam tugas ini. Tidakkah engkau ketahui bahwa perbuatan ini disenangi oleh Tuhan dan Rasul-Nya?”
Abu Aqil melanjutkan perkataannya, “Ayat ini sangat menyentuh perasaanku sehingga aku segera pulang ke rumah. Hari ini semua orang Islam membawa apa yang mereka miliki kepada Nabi Muhammad saaw agar permintaan Tuhan terpenuhi.” Isterinya tersenyum dan dia mengambil salah satu bejana dan mengeluarkan segenggam kurma sambil berkata kepada Abu Aqil, “Kita mempunyai sedikit kurma. Ambillah dan berikan kurma ini kepada Nabi.”
Abu Aqil tertegun dan mengguman sendirian, “Apa yang bisa diperbuat dengan kurma ini? Tetapi ini lebih baik daripada tidak memberi sesuatupun.” Isterinya lantas menaruh kurma itu dalam sebuah kain bersih dan memberikannya kepada Abu Aqil. Dengan gembira, Abu Aqil berkata, “Meskipun kurma ini tidak tampak berguna tetapi ia dapat dimanfaatkan di medan perang.”
Halaman kecil masjid ramai dipenuhi umat muslimin. Abu Aqil berada di antara mereka. Dengan langkah yang lemah, dia memperhatikan bahwa ada beberapa ekor biri-biri, kambing, dan unta terikat di luar masjid. Abu Aqil menyadari bahwa hewan-hewan itu merupakan hadiah dari orang ramai. Dia juga melihat orang-orang yang berkumpul di dalam masjid dengan hadiah besar dan kecil di tangan mereka. Abu Aqil merapatkan bungkusan yang berisi kurma ke dadanya dan dia berjalan masuk ke dalam masjid.
Melihat banyaknya kaum muslimin yang berdatangan menyerahkan hadiahnya kepada Nabi SAWW, kaum munafikin merasa tidak senang, dan muncul kebencian di dalam hati mereka, yang mendorong mereka untuk mengejek setiap orang yang menyerahkan sedekah dan bantuan kepada Nabi. Orang yang memberikan bantuan dalam jumlah besar, mereka ejek sebagai pamer, tidak ikhlas dan mengharap pujian. Sedangkan orang yang memberikan bantuan dalam jumlah sedikit, mereka ejek dengan mengatakan, "Allah dan Rasul-Nya tidak memerlukan bantuan kamu."
Melihat sikap orang-orang munafik itu, Abu Aqil sempat beberapa kali ingin mengambil keputusan untuk pulang ke rumahnya dan menjauhkan diri dari pandangan para pengganggu itu. Tetapi ada kekuatan dalam dirinya yang menghalanginya untuk pulang. Akhirnya dia duduk diam-diam di sudut masjid. Dilihatnya Nabi Muhammad SAWW duduk di tepi mihrab dan menerima hadiah-hadiah dari umatnya. Dia berharap dalam hati, alangkah baiknya jika dia mempunyai simpanan yang lebih pantas untuk diberikan kepada Nabi.
Tiba-tiba, masjid yang semula dipenuhi dengan suara ramai dilanda kesepian dan kesunyian. Abu Aqil memandang kepada Rasulullah. Rupanya, Rasul sedang menerima wahyu. Rasulullah SAWW menutup mata dan wajahnya seolah-olah sedang tenggelam dalam cahaya yang bersinar. Semua sahabat memahami keadaan Nabi ini dan menanti sampai Rasul selesai menerima wahyu.
Rasulullah kemudian membuka matanya dan dengan langkah yang perlahan beliau bergerak ke arah Abu Aqil. Jantung Abu Aqil berdebar-debar dan dia berusaha untuk menyembunyikan bungkusan kurmanya. Lalu, terdengar suara Rasulullah yang memecah kesunyian masjid, “Wahai manusia, baru saja Jibril menyampaikan wahyu dari Allah kepadaku. Ketahuilah bahwa para malaikat yang berada di langit, memandang bumi untuk menyaksikan pinjaman siapakah yang terbaik di sisi Tuhan.”
Rasulullah kemudian meletakkan tangannya ke atas pundak Abu Aqil dan berkata, “Ketahuilah, hadiahmu lebih berharga dari emas di sisi Tuhan. Orang munafik yang mencelamu dan menyebabkan hatimu sakit, kelak akan diberi azab. Wahai Abu Aqil, para malaikat sedang menanti, berikan hadiah itu kepadaku dan ketahuilah bahwa Allah ingin agar aku menggembirakanmu. Engkau hari ini disenangi oleh Allah.”
Abu Aqil masih tidak percaya, dia merasa seolah-olah sedang bermimpi, sebuah mimpi yang amat manis. Rasulullah dengan penuh kasih sayang mengambil bungkusan kurma tersebut dari tangannya dan membelai kepala Abu Aqil. Ketika itu pula Rasul membacakan ayat ke-79 surah Taubah yang artinya, “Orang-orang munafik yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan mencela orang-orang yang tidak memiliki apapun untuk disedekahkan selain dari yang disanggupinya. Allah akan membalas penghinaan mereka itu dan bagi mereka azab yang pedih.”
9:55 AM | Labels: Kisah sahabat tabiin kyai ulama | 1 Comments
Ya Musthafa (Sami Yusuf)
Ya Mustafa ya Mustafa ya Mustafa
Allahumma salli 'alal Mustafa
(O Allah send your blessings on the Chosen One)
Mustafa Mustafa Mustafa
Solo
You're our prophet,
Our beloved,
Truly you are,
Most just and kind (3)
Chorus
Allahumma salli 'alal Mustafa
Mustafa Mustafa Mustafa
Ya Mustafa ya Mustafa ya Mustafa
You're the Guide
Sent by Allah
To lead us
Towards the light (3)
Chorus
In your manners
And in your deeds
All the Prophets
You did exceed (3)
8:43 AM | Labels: Muhammad Shalallaahu `Alaihi Wasallaaam | 0 Comments
Muhammad (sammi yusuf)
Every day I see the same headlines
Crimes committed in the name of the divine
People committing atrocities in his name
They murder and kidnap with no shame
But did he teach hatred, violence, or bloodshed? No... Oh No
He taught us about human brotherhood
And against prejudice he firmly stood He loved children, their hands he’d hold
And taught his followers to respect the old
So would he allow the murder of an innocent child? Oh No...
CHORUS:
Muhammad ya rasulallah Muhammad ya habiballah Muhammad ya khalilallah Muhammad
Muhammad ya rasulallah Muhammad ya shafi’allah Muhammad ya bashirallah Ya rasulallah
Muhammad the light of my eyes About you they spread many lies
If only they came to realise Bloodshed you despise
8:15 AM | Labels: Muhammad Shalallaahu `Alaihi Wasallaaam | 1 Comments
Asma Allah
Asma’u ALLAH the Names of GOD
Raheem MERCIFUL
Kareemun GENEROUS
Adeem MAGNIFICENT
Aleemun ALL-KNOWING
Haleem FORBEARING ONE
Hakeemun PERFECTLY WISE
Mateen FIRM ONE
Mannan BENEFACTOR
Rahmaanun BENEFFICENT
Fattah OPENER
Gaffarun GREAT FORGIVER
Tawwab ACCEPTER OF REPENTANCE
Razzaqun SUSTAINER
Shaheed WITNESS
Allahuma salli ala Muhammad wa ali Muhammad
O GOD send Your Peace and Blessings on Muhammad and his family
Ya Muslimeen sallu alayhi
O Muslims send your peace and blessings upon him
Allahuma salli ala Muhammad wa sahbi Muhammad
O GOD send Your Peace and Blessings on Muhammad and his companions
Ya Mu’mineen sallu alayhi
O Believers send your peace and blessings upon him
Lateef SUBTLE ONE
Khabeerun ALL-AWARE
Sami’ ALL-HEARING
Baseerun ALL-SEEING
Jaleel SUBLIME ONE
Raqeebun WATCHFUL
Mujeeb RESPONSIVE
Gafuur ALL-FORGIVING
Shakuurun APPRECIATIVE
Waduud LOVING ONE
Qayuumun SELF-SUBSISTING ONE
Ra’uuf KIND
Sabuurun PATIENT ONE
Majeed MOST GLORIOUS ONE
Allahuma salli ala Muhammad wa ali Muhammad
O GOD send Your Peace and Blessings on Muhammad and his family
Ya Muslimeen sallu alayhi
O Muslims send your peace and blessings upon him
Allahuma salli ala Muhammad wa sahbi Muhammad
O GOD send Your Peace and Blessings on Muhammad and his companions
Ya Mu’mineen sallu alayhi
O Believers send your peace and blessings upon him
Allahu Akbar GOD is THE GREASTEST
La Ilaha illa hu There is no GOD but ALLAH
Al Maliku The SOVEREIGN LORD
Al Quddusu The HOLY ONE
La Ilaha illa hu There is no GOD but ALLAH
Arrahmanu The COMPASSIONATE
Arraheem The MERCIFUL
Allahu Akbar GOD is THE GREASTEST
Ya Rahman irham da’fana
O COMPASSIONATE, have mercy upon us
Allahu Akbar GOD is THE GREASTEST
Ya Ghaffaru ighfir dhunubana
O GREAT FORGIVER, forgive our sins
Allahu Akbar GOD is THE GREASTEST
Ya Sattaru ustur uyubana
O CONCEALER, conceal our faults
Allahu Akbar GOD is THE GREASTEST
Ya Mu’izu a’izza ummatana
O BESTOWER OF HONOUR, value our Ummah (nation)
Allahu Akbar GOD is THE GREASTEST
Ya Mujibu ajib du’aana
O RESPONSIVE, grant us our supplication
Allahu Akbar GOD is THE GREASTEST
Ya lateefu ultuf bina
O SUBTLE ONE, be gracious to us
9:16 PM | Labels: Muhammad Shalallaahu `Alaihi Wasallaaam | 0 Comments
Song`s text Al muallim
We once had a Teacher
The Teacher of teachers,
He changed the world for the better
And made us better creatures,
Oh Allah we’ve shamed ourselves
We’ve strayed from Al-Mu'allim,
Surely we’ve wronged ourselves
What will we say in front him?
Oh Mu'allim...
Chorus
He was Muhammad salla Allahu 'alayhi wa sallam,
Muhammad, mercy upon Mankind,
He was Muhammad salla Allahu 'alayhi wa sallam,
Muhammad, mercy upon Mankind,
Teacher of all Mankind.
Abal Qasim [one of the names of the Prophet]
Ya Habibi ya Muhammad
(My beloved O Muhammad)
Ya Shafi'i ya Muhammad
(My intercessor O Muhammad)
Khayru khalqillahi Muhammad
(The best of Allah’s creation is Muhammad)
Ya Mustafa ya Imamal Mursalina
(O Chosen One, O Imam of the Messengers)
Ya Mustafa ya Shafi'al 'Alamina
(O Chosen One, O intercessor of the worlds)
He prayed while others slept
While others ate he’d fast,
While they would laugh he wept
Until he breathed his last,
His only wish was for us to be
Among the ones who prosper,
Ya Mu'allim peace be upon you,
Truly you are our Teacher,
Oh Mu'allim..
Chorus
Ya Habibi ya Muhammad
(My beloved O Muhammad)
Ya Shafi'i ya Muhammad
(My intercessor O Muhammad)
Ya Rasuli ya Muhammad
(O My Messenger O Muhammad)
Ya Bashiri ya Muhammad
(O bearer of good news O Muhammad)
Ya Nadhiri ya Muhammad
(O warner O Muhammad)
'Ishqu Qalbi ya Muhammad
(The love of my heart O Muhammad)
Nuru 'Ayni ya Muhammad
(Light of my eye O Muhammad)
He taught us to be just and kind
And to feed the poor and hungry,
Help the wayfarer and the orphan child
And to not be cruel and miserly,
His speech was soft and gentle,
Like a mother stroking her child,
His mercy and compassion,
Were most radiant when he smiled
Chorus
Abal Qasim [one of the names of the Prophet]
Ya Habibi ya Muhammad
(My beloved O Muhammad)
Ya Shafi'i ya Muhammad
(My intercessor O Muhammad)
Khayru khalqillahi Muhammad
(The best of Allah’s creation is Muhammad)
Ya Mustafa Ya Imamal Mursalina
(O Chosen One O Imam of the Messengers)
Ya Mustafa ya Shafi'al 'Alamina
(O Chosen One O intercessor of the worlds)
8:17 PM | Labels: Muhammad Shalallaahu `Alaihi Wasallaaam | 0 Comments
Al hikam 14,15,16
Transkripsi dengan pengeditan seperlunya dari Kajian Kitab Al-Hikam oleh Syaikh Luqman pada tanggal 23 Juni 2007.
BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM
Setelah kita ditanya oleh Ibnu Athaillah tentang empat kaifa [kaifa yasyruqu qolbun shuwarul akwaani munthobi’atun fii mir atihi – bagaimana hati dapat bersinar sementara gambar dunia terlukis dalam cerminnya ?, am kaifa yarhulu ilallahi wa huwa mukabbalun bi syahwatihi – atau bagaimana hati bisa berangkat menuju Allah kalau ia masih terbelenggu oleh syahwatnya ?, am kaifa yathma’u an yadkhula hadhratallahi wa huwa lam yatathahhar min janaabati ghafalatihi – atau bagaimana hati akan antusias menghadap ke hadirat Allah bila ia belum suci dari janabah kelalaiannya ?, am kaifa yarjuu an yafhama daqaaiqal asraari wa huwa lam yatub min hafawaatihi – atau bagaimana hati mampu memahami kedalaman misteri gaib padahal ia belum bertobat dari kesalahannya ?], ini ada shock therapy yang luar biasa dari Ibnu Athaaillah, karena kalau tidak dipahami hati kita ketika kita menelusuri empat kaifa tersebut mengenai hudur hati kita sampai kita ini bisa terus menerus bersama Allah, maka orang bisa kaget, bisa terkejut melihat dunia ini.
Dulu ada seorang ulama mengalami stroke karena kaget, ketika menelusuri proses ruhaniah ibarat dari satu tahap ke tahap lain, dari satu langit ke langit lain, kalau digambarkan begitu seperti orang sedang menengadah melihat langit yang penuh keindahan bukan keindahan bintang-bintang, melainkan dibukakan tentang keindahan manifestasi asma’-asma’ Allah yang tersembunyi dibalik satu langit ke langit yang lain. Tiba-tiba kembali lagi ke dunia, langsung kaget, stroke.
Karena itu Beliau mengingatkan supaya kita tidak kaget dengan kalimat [14] : al kaunu kulluhu zhulmah - kehidupan dunia ini semuanya sesungguhnya gelap. Disebut gelap untuk menggambarkan ketiadaan, tidak ada atau tidak wujud karena itu disebut zhulmah. Wa innama anaa rahuzhuhuurul haqqi fiihi – bahwa Allah itu mencahayai semesta ini, karena itu apakah kita ini di dalam nuansa limpahan cahaya atau tidak ? dilanjutkan oleh Beliau faman ra-al kauna – siapa yang melihat semesta dunia yang ada ini (makhluk Allah), wa lam yasyhadhu fiihi – tapi tidak musyahadah, digunakan kalimat wa lam yasyhadhu fiihi ini mengingatkan bahwa proses pandang memandang antara kita dengan gusti Allah itu melalui musyahadah. Di sinilah para sufi membangun istilah yang disebut dengan wahdatusy syuhud dan bukan wahdatul wujud, sebab wahdatul wujud itu berarti patheisme yaitu menyatunya alam dengan tuhan. Alam ini fisiknya dan ruhny adalah tuhan, itulah yang disebut pantheisme dalam filsafat Yunani. Nah disinilah dunia Islam yang dieksplorasi oleh tasawuf menolak apa yang disebut wahdatul wujud, yang benar adalah wahdatusy syuhud karena yang menyatu bukan wujudnya melainkan musyahadahnya yaitu kesaksian hatinya yang menyatu. Bagimana wujud bisa bersatu padahal wujud itu ya hanya satu. Kalau ada wahdatul wujud berarti banyak wujud yang kemudian bersatu wujud itu, sedangkan yang berhak mempunyai sifat wujud itu hanya Allah karena itu Beliau mengatakan awalnya dengan wa lam yasyhadhu – tidak menyaksikan Allah, fiihi – di balik semesta ini, au indahu – atau di sisi semesta ini, au qablahu – atau sebelum adanya semesta ini, au ba’dahu – atau sesudah digulungnya semesta ini, faqad a’wazahu wujuudul anwaar – orangitu telah kehilangan wujud cahaya, wa hujibat ‘anhu syumuusul ma’aarifi bi suhubil atsar – dan orang itu tertutup dari cahaya matahari makrifat oleh mendung-mendung kemakhlukan semesta dunia ini. Dari sinilah kenapa disebut dunia itu suatu pesona yang memperdayai kita karena itu sebenarnya tidak ada hanya bayangan saja seperti orang melamun membayangkan sesuatu yang sebenarnya tidak ada, hanya seakan-akan ada saja. Kalau orang masuk di dalam lamunan itu, maka dia akan kehilangan cahaya lalu orang hidup dalam ghurur tadi. Jadi kehidupan dunia itu bisa memperdayai karena orang bisa kehilangan Allah.
Kalau orang bisa yasyhadhu fiihi bisa musyahdah di balik dunia, di sisi dunia, sebelum adanya dunia dan setelah dunia ini tidak ada maka orang tidak akan pernah kehilangan nur – yang digambarkan sebagai cahaya matahari makrifat. Hal ini penting sekali karena Allahu nuurus samaawaati wal ardh – Allah itu cahaya langit dan bumi [Q.S. 24:35], maksudnya bahwa Allah itu mencahayai, nur itu adalah asma’ dan sifat. Sifat nurNya itu adalah ada di langit dan di bumi, karena itu apa saja – kalau kita ingin mendengar tasbihny alam semesta ini maka musyahadah dulu di balik apa saja yang tampak. Bahwa di balik itu Allah. Seperti misalnya bisa digambarkan soal hubungan interaksi kita dengan Allah melalui apa yang kita pandang – man ra-a nafsahu faqad ra-a rabbahu, siapa yang melihat dirinya maka ia akan melihat tuhannya. Kita itu melihat diri kita apa ? Oh… aku melihat diriku sebagai abd / hamba. Dia melihat tuhannya pada tingkat abd ini berarti ada ubudiyah maka dia melihat tuhannya sebagai rab yang rububiyah. Interaksinya : siapa yang melihat dirinya dengan taubat, contohnya seseorang yang melihat dirinya bersalah dan melakukan taubat maka dia akan melihat tuhannya dengan sifat maghfirah. Siapa yang mengenal dirinya dengan doa, misalnya seseorang yang berkesadaran untuk full dengan doa karena di al qur’an disebutkan yaa ayyuhaannaasu antumul fuqaraa-u ilallah – hai manusia kamu sangat butuh banget sama Allah [Q.S. 35:15], oleh karena itu aku harus mohon – kalau aku mohon aku harus kenal tuhan. Begitu tuhan kenal dengan si pendoa maka dia akan kenal Allah dengan ijabahNya. Proses itu berlangsung terus menerus tidak habis-habisnya.
Dari sinilah Anda mengenal pohon, air, hawa panas, itu semua tentang diri kita sebenarnya, pelajaran dari Allah tentang profile dan prototype diri kita sendiri. Lalu apa ? Oh.. iya Allah sedang menggerakkan apa – sifat apa di situ ? Itulah awal musyahadah.
Dulu saya ada kawan di Jakarta, ceritanya lagi jadzab yang membawa hikmah tetapi jangan ikut-ikut lho ya… Perusahaan kalau di Jakarta kalau ada kantor gede bikin listing sumbangan mau bikin musholla, kebanyakan yang memberikan sumbangan ditulis hamba Allah seratus ribu misalnya, nah kawan saya lagi agak gendeng ditulis saja Allah seratus ribu – geger sekantor itu. Karena kawan saya agak kontroversial, maka dipanggil oleh direkturnya, “Rosyid, sini !, Kenapa mengaku tuhan ? Ini ada bukti-buktinya”, “Ini tanda tangan siapa ?”. Si Rosyid menjawab, “Ini tanda tangan saya memang, tapi sebenarnya begini Pak tujuan saya agar temen-temen kantor nanti ketika membangun musholla merasa bahwa yang membangun itu gusti Allah juga bukan cuman diklaim oleh temen-temen sekantor ini”. “Lho maksudmu gimana kok kamu tulis Allah begini ?”. “Lha iya sekarang saya minta Bapak menulis di kertas tulisan apa saja”. Kemudian ditulis misalnya : rencana pembangunan musholla. “Siapa Pak yang nulis tadi ?”. “Saya”. “Apa bukan pulpen yang nulis ? Sama seperti saya, saya ini cuman pulpennya gusti Allah, jadi engga berhak mengaku tadi tulisan saya, tulisannya gusti Allah juga”. Jadi semua itu tadi merupakan gambaran saja bahwa itu cermin. Dulu Syekh Jalaluddin ar Rumi yang punya tarekat Maulawiyah, pernah mengadakan lomba lukis, ada orang yangmengikuti tanpa membawa kertas tetapi membawa cermin. Saat lukisan dikumpulkan, ditanya orangtersebut tentanglukisannya dan dia menjawab, “Bapak minta lukisan apa ? Mau lukisan gunung ? Ini dia” sambil menghadapkan cermin ke arah gunung. Dari hal ini sebenarnya Syekh Jalaluddin ar Rumi ingin mengingatkan bedanya seorang sufi dengan intelektual atau cendekiawan. Kalau intelektual/ilmuwan/cendekiawan ya seperti pelukis itu kerjanya menggambar, mengukur, menghitung tetapi tidak bisa 3 dimensi seperti dalam cermin itu. Nah si sufi ini hanya ingin memotret saja yang pas. Qolbul mu’minin baitullah – qolbunya orang beriman itu rumah Allah, cermin Allah. Cermin itu kecil, tetapi kenapa bisa mewadahi seluruh gambar bukit yang ada di hadapannya ? Itu untuk menjawab pertanyaan bahwa Allah itu tak terhingga tetapi kok dalam hadis Qudsi berfirman bahwa yang bisa memuat Allah cuma hati orang yang beriman. Lha hati itu seperti cermin tadi, karena itu hati kita ini tiap hari harus digosok terus supaya ada pancaran nur tadi, nurnya Allah biar bisa persis terpantul dalam hati kita. Kalau tidak bisa persis ya karena salah kita saja, soal yaqin kita kepada Allah saja.
Dalam memandang alam semesta kita tidak boleh memandang wujudnya saja, karena perintah Allah itu kita disuruh memnadang yang tersembunyi di balik yang wujud dalam rangka musyahadah. Di sanalah ada af’al, asma’ dan sifat Allah, sehingga akhirnya seseorang hisa memahami kalau Allah menyebutkan bahwa seluruh yang ada di langit dan di bumi bertasbih.
Daun akan menyucikan Allah karena dia tidak akan mengklaim dirinya tumbuh karena dirinya, kalau dia mengklaim dia tumbuh dengan sendirinya berate dia mengotori, mengurangi af’al, asma’ dan sifat Allah.
Dilanjutkan dengan [15] : mimmaa yadulluka ‘ala wujuudi qahrihi subhaanahu an hajabaka ‘anhu bimaa laisa bimaujuudin ma’ahu. Salah satu sifat Qahar-nya Allah yaitu memaksanya Allah, antara lain adalah menutup diri kita ini dengan sesuatu tutup yang sebenarnya tutup itu tidak pernah ada. Manusia sering kali tertutup antara dirinya dan tuhanya dengan sesuatu, bisa dunia, bisa hawa nafsu, bisa khayalan, bisa akhirat, padahala hakikatnya tutup itu tidak ada. Kalau ada sesuatuyang bisa menutupi Allah berarti sesuatu itu akbaru minhu - lebih besar dibandingkan Allah. Kita harus mulai belajar merasakan bahwa kita sholat, bergerak kesana kemari, Rasulullah mengajari terus menerus mengucapkan bismillahirrohmanirrohim. Sebenarnya untuk apa ? Hal itu adalah minimal agar kita sadar bahwa di balik itu semua ada asmanya Allah sehingga hubungan kita dengan Allah tidak mudah tertutup oleh sesuatu yang sebenarnya sesuatu itu tidak ada. Yang ada itu Allah saja. Kita ini kan hanya cermin. Tetapi manusia menjadi salah manakala bercermin dan mengaku bahwa yang di cermin itu adalah dirinya.
Posisi musyahadah adalah dalam wilayah ruh menjelang wilayah sirr. Jangan diturunkan di wilayah akal, nanti akan menjadi seperti orang membawa cermin tadi yang kemana-mana pengumuman bahwa cermin itulah dirinya. Bias dari ruh adalah qalbu kita ini.
Dilanjutkan dengan sepuluh kaifa [16] : kaifa yatashawwaru an yahjubahu syai’ wa huwalladzi zhahara bikulli syai’ – bagaimana sesuatu itu menutup Allah, sedangkan Allah menyertai segalanya [menyertai itu ya apa saja ada Allah di situ, tetapi sesuatu tidak bisa menyertai Allah, Allah yang menyertai sesuatu], kaifa yatashawwaru an yahjubahu syai’ wa huwalladzi zhahara fii kulli syai’ – bagaimana sesuatu itu menutup Allah, sedangkan Allah tampak dibalik segala sesuatu, kaifa yatashawwaru an yahjubahu syai’ wa huwalladzi zhahara likulli syai’ – bagaimana sesuatu itu menutup Allah, sedangkan Allah tampak bagi segala sesuatu [Maksudnya kalau Allah tampak bagi segala sesuatu berarti yang lain tidak tampak, lalu jangan yang lain itu kita jadikan tutup wong tidak tampak], kaifa yatashawwaru an yahjubahu syai’ wa huwazh zhahiru qabla wujuudi kulli syai’ – bagaimana sesuatu itu menutup Allah, sedangkan Allah sudah tampak sebelum segala sesuatu yang ada ini tampak dan ada, kaifa yatashawwaru an yahjubahu syaiun wa huwa azh-haru min kulli syai’ – bagaimana sesuatu itu menutup Allah, sedangkan Allah itu lebih jelas dari segalanya yang ada [Lebih jelas, bahkan saking jelasnya tidak bisa dilihat oleh mata kepala kita dan hanya bisa dipandang oleh mata hati kita. Mata hati kita ini produk akhirat yang ada di dunia sehingga bisa memandang Allah.], kaifa yatashawwaru an yahjubahu syaiun wa huwal wahidulladzi laysa ma’ahu syai’ – bagaimana sesuatu itu menutup Allah, sedangkan Allah itu satu-satunya tidak ada yang menyertainya [Satu-satunya itu adalah pernyataan seseorang ketika sudah menafikan semuanya, lalu orang akan mengatakan Kaulah satu-satunya. Hal ini beda dengan Kaulah Maha Esa, beda ! Al wahid itu artinya satu-satunya.], kaifa yatashawwaru an yahjubahu syaiun wa huwa aqrabu ilayka min kulli syai’ – bagaimana sesuatu itu menutup Allah, sedangkan Allah maha dekat dibanding apa pun yang dekat dengan kita [Karena maha dekat janganlah membayangkan bahwa kedekatan dengan Allah itu berdasarkan dekatnya jarak, ruang, waktu dan zaman. Hal tersebut tidak bisa untuk mengukur dekatnya Allah.], kaifa yatashawwaru an yahjubahu syaiun walaulaa hu maa kaana wujuudu kulli syai’ – bagaimana sesuatu itu menutup Allah, kalau tanpa Allah segalanya tidak pernah ada, yaa ‘ajaban kaifa yazh-harul wujuudu fiil ‘adam – sungguh mengagumkan/mengherankan bagaimana engkau bayangkan ada sesuatu yang ada padahal itu ada dalam ketiadaan [Orang itu terhijab karena dia memproduksi sesuatu yang disebut menurut dia ada padahal dalam ketiadaan], kaifa yatsbutul haaditsu ma’a man lahu washfil qidam – bagaimana sesuatu yang baru kita sandingkan dengan sesuatu yang maha dahulu [Itu tidak akan terjadi.].
Jadi sepuluh hal tersebut silahkan Anda tulis, ditempel di kamar Anda, di tempat Anda merenung agar suasana musyahadah dengan Allah dapat terus. “Engkau semua Allah” dan di situlah awal interaktif, awal Anda on line terus dengan Allah lalu Anda akan menyadari bahwa hijab itu ternyata tidak ada. “Kok gusti Allah semua ya?” jadi nanti akan begitu
[ BaGuS ]
Posted by Majelis Cahaya Ilahi at 10:00 PM
dikutip : http://majeliscahayailahi.blogspot.com/
11:04 AM | Labels: tasawuf | 0 Comments
