Tarekat Syadziliyah
Sumber:Sufi News
Secara pribadi Abul Hasan asy-Syadzili tidak meninggalkan karya tasawuf, begitu juga muridnya, Abul Abbas al-Mursi, kecuali hanya sebagai ajaran lisan tasawuf, Doa, dan hizib. Ibn Atha'illah as- Sukandari adalah orang yang pertama menghimpun ajaran-ajaran, pesan-pesan, doa dan biografi keduanya, sehingga kasanah tareqat Syadziliyah tetap terpelihara. Ibn Atha'illah juga orang yang pertama kali menyusun karya paripurna tentang aturan-aturan tareqat tersebut, pokok-pokoknya, prinsip-prinsipnya, bagi angkatan-angkatan setelahnya.
Melalui sirkulasi karya-karya Ibn Atha'illah, tareqat Syadziliyah mulai tersebar sampai ke Maghrib, sebuah negara yang pernah menolak sang guru. Tetapi ia tetap merupakan tradisi individualistik, hampir-hampir mati, meskipun tema ini tidak dipakai, yang menitik beratkan pengembangan sisi dalam. Syadzili sendiri tidak mengenal atau menganjurkan murid-muridnya untuk melakukan aturan atau ritual yang khas dan tidak satupun yang berbentuk kesalehan populer yang digalakkan. Namun, bagi murid-muridnya tetap mempertahankan ajarannya. Para murid melaksanakan Tareqat Syadziliyah di zawiyah-zawiyah yang tersebar tanpa mempunyai hubungan satu dengan yang lain.
Sebagai ajaran Tareqat ini dipengaruhi oleh al-Ghazali dan al-Makki. Salah satu perkataan as-Syadzili kepada murid-muridnya: "Seandainya kalian mengajukan suatu permohonanan kepada Allah, maka sampaikanlah lewat Abu Hamid al-Ghazali". Perkataan yang lainnya: "Kitab Ihya' Ulum ad-Din, karya al-Ghozali, mewarisi anda ilmu. Sementara Qut al-Qulub, karya al-Makki, mewarisi anda cahaya." Selain kedua kitab tersebut, as-Muhasibi, Khatam al-Auliya, karya Hakim at-Tarmidzi, Al-Mawaqif wa al-Mukhatabah karya An-Niffari, Asy-Syifa karya Qadhi 'Iyad, Ar-Risalah karya al-Qusyairi, Al-Muharrar al-Wajiz karya Ibn Atah'illah.
Ketaqwaan terhadap Allah swt lahir dan batin, yang diwujudkan dengan jalan bersikap wara' dan Istiqamah dalam menjalankan perintah Allah swt.
Konsisten mengikuti Sunnah Rasul, baik dalam ucapan maupun perbuatan, yang direalisasikan dengan selalau bersikap waspada dan bertingkah laku yang luhur.
Berpaling (hatinya) dari makhluk, baik dalam penerimaan maupun penolakan, dengan berlaku sadar dan berserah diri kepada Allah swt (Tawakkal).
Ridho kepada Allah, baik dalam kecukupan maupun kekurangan, yang diwujudkan dengan menerima apa adanya (qana'ah/ tidak rakus) dan menyerah.
Kembali kepada Allah, baik dalam keadaan senang maupun dalam keadaan susah, yang diwujudkan dengan jalan bersyukur dalam keadaan senang dan berlindung kepada-Nya dalam keadaan susah.
Kelima sendi tersebut juga tegak diatas lima sendi berikut:
Semangat yang tinggi, yang mengangkat seorang hamba kepada derajat yang tinggi.
Berhati-hati dengan yang haram, yang membuatnya dapat meraih penjagaan Allah atas kehormatannya.
Berlaku benar/baik dalam berkhidmat sebagai hamba, yang memastikannya kepada pencapaian tujuan kebesaran-Nya/kemuliaan-Nya.
Melaksanakan tugas dan kewajiban, yang menyampaikannya kepada kebahagiaan hidupnya.
Menghargai (menjunjung tinggi) nikmat, yang membuatnya selalu meraih tambahan nikmat yang lebih besar.
Selain itu tidak peduli sesuatu yang bakal terjadi (merenungkan segala kemungkinan dan akibat yang mungkin terjadi pada masa yang akan datang) merupakan salah satu pandangan tareqat ini, yang kemudian diperdalam dan diperkokoh oleh Ibn Atha'illah menjadi doktrin utamanya. Karena menurutnya, jelas hal ini merupakan hak prerogratif Allah. Apa yang harus dilakukan manusia adalah hendaknya ia menunaikan tugas dan kewajibannya yang bisa dilakukan pada masa sekarang dan hendaknya manusia tidak tersibukkan oleh masa depan yang akan menghalanginya untuk berbuat positif.
ementara itu tokohnya yang terkenal pada abad ke delapan Hijriyah, Ibn Abbad ar-Rundi (w. 790 H), salah seorang pensyarah kitab al-Hikam memberikan kesimpulan dari ajaran Syadziliyah: Seluruh kegiatan dan tindakan kita haruslah berupa pikiran tentang kemurahan hati Allah kepada kita dan berpendirian bahwa kekuasaan dan kekuatan kita adalah nihil, dan mengikatkan diri kita kepada Allah dengan suatu kebutuhan yang mendalam akan-Nya, dan memohon kepada-Nya agar memberi syukur kepada kita."
Mengenai dzikir yang merupakan suatu hal yang mutlak dalam tareqat, secara umum pada pola dzikir tareqat ini biasanya bermula dengan Fatihat adz-dzikir. Para peserta duduk dalam lingkaran, atau kalau bukan, dalam dua baris yang saling berhadapan, dan syekh di pusat lingkaran atau diujung barisan. Khusus mengenai dzikir dengan al-asma al-husna dalam tareqat ini, kebijakjsanaan dari seorang pembimbing khusus mutlak diperlukan untuk mengajari dan menuntun murid. Sebab penerapan asma Allah yang keliru dianggap akan memberi akibat yang berbahaya, secara rohani dan mental, baik bagi sipemakai maupun terhadap orang-orang disekelilingnya. Beberapa contoh penggunaan Asma Allah diberikan oleh Ibn Atha'ilah berikut: "Asma al-Latif," Yang Halus harus digunakan oleh seorang sufi dalam penyendirian bila seseorang berusaha mempertahankan keadaan spiritualnya; Al-Wadud, Kekasih yang Dicintai membuat sang sufi dicintai oleh semua makhluk, dan bila dilafalkan terus menerus dalam kesendirian, maka keakraban dan cinta Ilahi akan semakin berkobar; dan Asma al-Faiq, "Yang Mengalahkan" sebaiknya jangan dipakai oleh para pemula, tetapi hanya oleh orang yang arif yang telah mencapai tingkatan yang tinggi.
Tareqat Syadziliyah terutama menarik dikalangan kelas menengah, pengusaha, pejabat, dan pengawai negeri. Mungkin karena kekhasan yang tidak begitu membebani pengikutnya dengan ritual-ritual yang memberatkan seperti yang terdapat dalam tareqat-tareqat yang lainnya. Setiap anggota tareqat ini wajib mewujudkan semangat tareqat didalam kehidupan dan lingkungannya sendiri, dan mereka tidak diperbolehkan mengemis atau mendukung kemiskinan. Oleh karenanya, ciri khas yang kemudian menonjol dari anggota tareqat ini adalah kerapian mereka dalam berpakaian. Kekhasan lainnya yang menonjol dari tareqat ini adalah "ketenagan" yang terpancar dari tulisan-tulisan para tokohnya, misalnya: asy-Syadzili, Ibn Atha'illah, Abbad. A Schimmel menyebutkan bahwa hal ini dapat dimengerti bila dilihat dari sumber yang diacu oleh para anggota tareqat ini. Kitab ar-Ri'ayah karya al-Muhasibi. Kitab ini berisi tentang telaah psikologis mendalam mengenai Islam di masa awal. Acuan lainnya adalah Qut al-Qulub karya al-Makki dan Ihya Ulumuddin karya al-Ghozali. Ciri "ketenangan" ini tentu sja tidak menarik bagi kalangan muda dan kaum penyair yang membutuhkan cara-cara yang lebih menggugah untuk berjalan di atas Jalan Yang Benar.
Disamping Ar-Risalahnya Abul Qasim Al-Qusyairy serta Khatamul Auliya'nya, Hakim at-Tirmidzi. Ciri khas lain yang dimiliki oleh para pengikut tareqat ini adalah keyakinan mereka bahwa seorang Syadzilliyah pasti ditakdirkan menjadi anggota tareqat ini sudah sejak di alam Azali dan mereka percaya bahwa Wali Qutb akan senantiasa muncul menjadi pengikut tareqat ini.
Tidak berbeda dengan tradisi di Timur Tengah, Martin menyebutkan bahwa pengamalan tareqat ini di Indonesia dalam banyak kasus lebih bersifat individual, dan pengikutnya relatif jarang, kalau memang pernah, bertemu dengan yang lain. Dalam praktiknya, kebanyakan para anggotanya hanya membaca secara individual rangaian-rangkaian doa yang panjang (hizb), dan diyakini mempunyai kegunaan-kegunaan megis. Para pengamal tareqat ini mempelajari berbagai hizib, paling tidak idealnya, melalui pengajaran (talkin) yang diberikan oleh seorang guru yang berwewenang dan dapat memelihara hubungan tertentu dengan guru tersebut, walaupun sama sekali hampir tidak merasakan dirinya sebagai seorang anggota dari sebuah tareqat.
Hizb al-Bahr, Hizb Nashor, disamping Hizib al-Hafidzah, merupaka salah satu Hizib yang sangat terkenal dari as-Syadzilli. Menurut laporan, hizib ini dikomunikasikan kepadanya oleh Nabi SAW. Sendiri. Hizib ini dinilai mempunyai kekuatan adikodrati, yang terutama dugunakan untuk melindungi selama dalam perjalanan. Ibnu Batutah menggunakan doa-doa tersebut selama perjalanan-perjalanan panjangnya, dan berhasil. Dan di Indonesia, dimana doa ini diamalkan secara luas, secara umum dipercaya bahwa kegunaan megis doa ini hanya dapat "dibeli" dengan berpuasa atau pengekangn diri yang liannya dibawah bimbingan guru.
Hizib-hizib dalam Tareqat Syadzilliyah, di Indonesia, juga dipergunakan oleh anggota tareqat lain untuk memohon perlindungan tambahan (Istighotsah), dan berbagai kekuatan hikmah, seperti debus di Pandegelang, yang dikaitkan dengan tareqat Rifa'iyah, dan di Banten utara yang dihubungkan dengan tareqat Qadiriyah.
Para ahli mengatakan bahwa hizib, bukanlah doa yang sederhana, ia secara kebaktian tidak begitu mendalam; ia lebih merupakan mantera megis yang Nama-nama Allah Yang Agung (Ism Allah A'zhim) dan, apabila dilantunkan secara benar, akan mengalirkan berkan dan menjamin respon supra natural. Menyangkut pemakaian hizib, wirid, dana doa, para syekh tareqat biasnya tidak keberatan bila doa-doa, hizib-hizib (Azhab), dan wirid-wirid dalam tareqat dipelajari oleh setiap muslim untuk tujuan personalnya. Akan tetapi mereka tidak menyetujui murid-murid mereka mengamalkannya tanpa wewenang, sebab murid tersebut sedang mengikuti suaru pelatihan dari sang guru.
Tareqat ini mempunyai pengaruh yang besar di dunia Islam. Sekarang tareqat ini terdapat di Afrika Utara, Mesir, Kenya, dan Tanzania Tengah, Sri langka, Indonesia dan beberapa tempat yang lainnya termasuk di Amerika Barat dan Amerika Utara. Di Mesir yang merupakan awal mula penyebaran tareqat ini, tareqat ini mempunyai beberapa cabang, yakitu: al-Qasimiyyah, al- madaniyyah, al-Idrisiyyah, as-Salamiyyah, al-handusiyyah, al-Qauqajiyyah, al-Faidiyyah, al-Jauhariyyah, al-Wafaiyyah, al-Azmiyyah, al-Hamidiyyah, al-Faisiyyah dan al- Hasyimiyyah.
Yang menarik dari filosufi Tasawuf Asy-Syadzily, justru kandungan makna hakiki dari Hizib-hizib itu, memberikan tekanan simbolik akan ajaran utama dari Tasawuf atau Tharekat Syadziliyah. Jadi tidak sekadar doa belaka, melainkan juga mengandung doktrin sufistik yang sangat dahsyat.
[B]Di antara Ucapan Abul Hasan asy-Syadzili: [/B]
[#]Pengelihatan akan yang Haqq telah mewujud atasku, dan takkan meninggalkan aku, dan lebih kuat dari apa yang dapat dipikul, sehingga aku memohon kepada Tuhan agar memasang sebuah tirai antara aku dan Dia. Kemudian sebuah suara memanggilku, katanya " Jika kau memohon kepada-Nya yang tahu bagaimana memohon kepada-Nya, maka Dia tidak akan memasang tirai antara kau dan Dia. Namun memohonlah kepada-Nya untuk membuatmu kuat memiliki-Nya."Maka akupun memohon kekuatan dari Dia pun membuatku kuat, segala puji bagi Tuhan!
[/#]
[#]Aku pesan oleh guruku (Abdus Salam ibn Masyisy ra): "Jangan anda melangkahkan kaki kecuali untuk sesuatu yang dapat mendatangkn keridhoan Allah, dan jangan duduk dimajelis kecuali yang aman dari murka Allah. Jangan bersahabat kecuali dengan orang yang membantu berbuat taat kepada Allah. Jangan memilih sahabat karib kecuali orang yang menambah keyakinanmu terhadap Allah."
[/#]
[#]Seorang wali tidak akan sampai kepada Allah selama ia masih ada syahwat atau usaha ihtiar sendiri.
[/#]
[#]Janganlah yang menjadi tujuan doamu itu adalah keinginan tercapainya hajat kebutuhanmu. Dengan demikian engkau hanya terhijab dari Allah. Yang harus menjadi tujuan dari doamu adalah untuk bermunajat kepada Allah yang memeliharamu dari-Nya.
[/#]
[#]Seorang arif adalah orang yang megetahui rahasia-rahasia karunia Allah di dalam berbagai macam bala' yang menimpanya sehari-hari, dan mengakui kesalahan-kesalahannya didalam lingkungan belas kasih Allah kepadanya.
[/#]
[#]Sedikit amal dengan mengakui karunia Allah, lebih baik dari banyak amal dengan terus merasa kurang beramal.
[/#]
[#]Andaikan Allah membuka nur (cahaya) seorang mu'min yang berbuat dosa, niscaya ini akan memenuhi antara langit dan bumi, maka bagaimanakah kiranya menjelaskan : "Andaikan Allah membuka hakikat kewalian seorang wali, niscaya ia akan disembah, sebab ia telah mengenangkan sifat-sifat Allah SWT.
Sumber:Sufi News
1:04 PM | Labels: tasawuf | 0 Comments
Gerbang Cinta Para Wali
Dikutip dari
Sufinews.com
Ada cahaya yang memendar nun jauh di sana. Tak habis-habisnya mata memandang penuh pesona. Indah dan menakjubkan, hingga tiada sesaat pun melainkan sebuah klimaks dari puncak rasa kita, terkadang seperti puncak gelombang Cinta, terkadang menghempas seperti sauh-sauh kesadaran di hempas pantai, terkadang begitu jauh di luar batas harapan, padahal ia lebih dekat dari sanubari kita sendiri.
Tiba-tiba cahaya itu ada di depan mata hati kita. Ternyata sebuah gerbang keagungan yang dahsyat penuh kharisma. Gerbang itu seakan bicara: “Akulah gerbang para kekasih Tuhan”. Sejengkal saja kaki kita melangkah, memasuki pintu gerbang itu, seluruh kesadaran kita sirna dalam luapan gelombang cinta yang digerakkan oleh kedahsyatan angin kerinduan. Kata pertama yang berbunyi di sana adalah deretan puja dan puji:
“Segala puji bagi Allah yang telah meluapi lembah kalbu para wali-Nya dengan luapan Cinta kepada-Nya. Dia yang membangunkan istana khusus agar luapan arwah para kekasih-Nya itu, senantiasa menyaksikan keagungan-Nya. Dia pula yang menghamparkan padang ma’rifatullah melalui rahasia-rahasia jiwanya. Lalu kalbunya berada di sebuah taman surga. Taman itu penuh dengan lukisan-lukisan ma’rifatullah yang tiada tara. Sedangkan arwah-arwah mereka berada di Taman Malakut, tak sejenak pun arwah itu melainkan berada dalam keabadian penyucian pada-Nya. Duh, rahasia arwahnya, mendendangkan tasbih dalam tarian Lautan Jabarut-Nya.”
Lalu sebuah gerbang yang begitu agung dan indahnya, mengukirkan prasasti yang ditulis oleh Qalam Ruhani. “Segala Puja bagi Allah, yang telah membuka gerbang Cinta-Nya bagi para Kekasih-Nya. Lalu Dia mengurai rantai yang membelenggu jiwanya, sehingga mereka teguh dalam keharusan khidmah pada-Nya, sedangkan cahaya-cahaya-Nya melimpahi akal-akal mereka. Lalu tampak jelas, keajaiban-keajaiban kekuasaan-Nya, sedangkan kalbu-kalbu mereka terjaga dari haru biru tipudaya yang menumpah pada pesona-pesona cetak lahiriyah jagad semesta, sampai akhirnya menggapai ma’rifat paripurna. Amboi, ruh-ruh mereka tersingkapkan dari kemahasucian paripurna-Nya, dan sifat-sifat keagungan-Nya. Merekalah penempuh jalan hadirat-Nya, dalam kenikmatan rahasia kedekatan dengan-Nya, melalui tarekat dahsyat rindu dendam-Nya, hingga mereka termanifestasi dalam hakikat, melalui penyaksian Ketunggalan-Nya. Mereka telah diraih dari mereka, dan Dia menyirnakan mereka dari mereka, lalu mereka ditenggelamkan dalam lautan Kemaha-Dia-an-Nya. Dia memisahkan pasukan-pasukan terpencar dalam kesatuan kitab-Nya bagi para kekasih terpilih-Nya. Lalu mereka terjaga oleh kerahasiaan jiwa melalui limpahan cahaya-cahaya, agar ia menjadi obyek manifestasi, di samping ke-Tunggal-Dirian-Nya.”
Kalau saja kita ingin mengenal gerbang-gerbang Kekasih Allah itu, semata bukanlah hasrat dan ambisi untuk menjadi Kekasih-Nya. Sebab, mengangkat derajat seseorang menjadi Kekasih-Nya adalah Hak Allah, dan Allah sendiri yang memberi Wilayah itu kepada hamba-Nya yang dikehendaki-Nya.
Sekadar berkah atas cahaya kewalian dari kekasih-kekasih-Nya itu, sesungguhnya lebih dari cukup bagi kita. Sedangkan pengetahuan kita atas dunia kewalian yang menjadi bagian dari misteri-misteri Ilahi, tidak lebih dari limpahan-limpahan Ilahi, agar kita lebih yakin kepada-Nya atas keimanan kita selama ini.
Para Auliya Allah adalah Ahlullah. Mereka terpencar di muka bumi sebagai “tanda-tanda” Ilahiyah, dengan jumlah tertentu, dan tugas-tugas tertentu. Di antara mereka ada yang ditampakkan karamahnya, ada pula yang tidak ditampakkan sama sekali. Oleh karena itu hamba-hamba Allah yang diberi kehebatan luar biasa, tidak sama sekali disebut Waliyullah, dan belum tentu juga yang tidak memiliki kelebihan sama sekali, tidak mendapat derajat Wali Allah. Para Auliya adalah mereka yang senantiasa mencurahkan jiwanya untuk Ubudiyah kepada Allah, dan menjauhkan jiwanya dari kemaksiatan kepada Allah.
Di masyarakat kita, seringkali terjebak oleh fenomena-fenomena metafisikal yang begitu dahsyat yang muncul dari seseorang. Lalu masyarakat kita mengklaim bahwa orang tersebut tergolong Waliyullah. Padahal kata seorang syekh sufi, “Jika kalian melihat seseorang bisa terbang, bisa menembus batas geografis dengan cepat, bahkan bisa menembus waktu yang berlalu dan yang akan datang, janganlah Anda anggap itu seorang Wali Allah sepanjang ia tidak mengikuti Sunnah Rasulullah SAW.“
Mengapa? Sebab ada ilmu-ilmu hikmah tertentu yang bisa dipelajari, agar seseorang memiliki kehebatan tertentu di luar batas ruang dan waktu, dan ironisnya ilmu demikian disebut sebagai Ilmu Karamah. Padahal karamah itu, adalah limpahan anugerah Ilahi, bukan karena usaha-usaha tertentu dari hamba Allah.
Karamah sendiri bukanlah syarat dari kewalian. Kalau saja muncul karamah pada diri seorang wali, semata hanyalah sebagai petunjuk atas kebenaran ibadahnya, kedudukan luhurnya, namun dengan syarat tetap berpijak pada perintah Nabi SAW. Jika tidak demikian, maka karamah hanyalah kehinaan syetan. Karena itu di antara orang-orang yang saleh ada yang mengetahui derajat kewaliannya, dan orang lain tahu. Ada pula yang tidak mengetahui derajat kewaliannya sendiri, dan orang lain pun tidak tahu. Bahkan ada orang lain yang tahu, tetapi dirinya sendiri tidak tahu.
Tetapi di belahan ummat Islam lain juga ada yang menolak konsep kewalian. Bahkan dengan mudah mengklaim yang disebut Auliya’ itu seakan-akan hanya derajat biasa dari derajat keimanan seseorang. Tentu saja, kelompok ini sama kelirunya dengan kelompok mereka yang menganggap seseorang, asal memiliki kehebatan, lalu disebut sebagai Waliyullah, apalagi jika orang itu dari kalangan kiai atau ulama.
Meluruskan pandangan Kewalian di khalayak ummat kita, memang sesuatu yang rumit. Ada ganjalan-ganjalan primordial dan psikologis, bahkan juga ganjalan intelektual.
Al-Quthub Abul Abbas al-Mursi, semoga Allah meridlainya, menegaskan dalam kitab yang ditulis oleh muridnya, Lathaiful Minan, karya Ibnu Athaillah as-Sakandari, “Waliyullah itu diliputi oleh ilmu dan ma’rifat-ma’rifat, sedangkan wilayah hakikat senantiasa disaksikan oleh mata hatinya, sehingga ketika ia memberikan nasehat seakan-akan apa yang dikatakan seperti identik dengan izin Allah. Dan harus dipahami, bagi siapa yang diizinkan Allah untuk meraih ibarat yang diucapkan, pasti akan memberikan kebaikan kepada semua makhluk, sementara isyarat-isyaratnya menjadi riasan indah bagi jiwa-jiwa makhluk itu.”
“Dasar utama perkara Wali itu,” kata Abul Abbas, “adalah merasa cukup bersama Allah, menerima Ilmu-Nya, dan mendapatkan pertolongan melalui musyahadah kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman: “Barangsiapa bertawakkal kepada Allah, maka Dia-lah yang mencukupinya.” (QS. ath-Thalaq: 3). “Bukankah Allah telah mencukupi hambanya?” (QS. Az-Zumar: 36). “Bukankah ia tahu, bahwa sesungguhnya Allah itu Maha Tahu?” (QS. al-‘Alaq :14). “Apakah kamu tidak cukup dengan Tuhanmu, bahwa sesungguhnya Dia itu Menyaksikan segala sesuatu?” (QS. Fushshilat: 53).
Syekh Agung Abdul Halim Mahmud dalam memberikan catatan khusus mengenai Lathaiful Minan karya as-Sakandari mengupas panjang lebar mengenai Kewalian ini. Hal demikian dilakukan karena, as-Sakandari menulis kitab itu memulai tentang wacana Kewalian, karena memang, buku besar itu ingin mengupas tuntas tentang biografi dua Waliyullah terbesar sepanjang zaman, yaitu Sulthanul Auliya’ Syekh Abul Hasan asy-Syadzili ra dan muridnya, Syekh Abul Abbas al-Mursi.
Dalam sebuah ayat yang seringkali menjadi rujukan utama dunia Kewalian adalah: “Ingatlah bahwa sesungguhnya para Wali-wali Allah itu tidak punya rasa takut dan rasa gelisah. Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka bertaqwa. Mereka mendapatkan kegembiraan dalam kehidupan dunia dan dalam kehidupan akhirat. Tidak ada perubahan bagi Kalimat-kalimat Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.” (QS. Yunus: 62-64)
Dalam salah satu hadits Qudsi yang sangat populer disebutkan, “Rasulullah SAW bersabda: Allah Ta’ala berfirman: “Siapa yang memusuhi Wali-Ku, maka benar-benar Aku izinkan orang itu untuk diperangi. Dan tidaklah seorang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku yang lebih Aku cintai dibanding apa yang Aku wajibkan padanya. Dan hamba-Ku itu senantiasa mendekatkan pada-Ku dengan ibadah-ibadah Sunnah sehingga Aku mencintai-Nya. Maka bila Aku mencintainya, Akulah pendengarannya di mana ia mendengar, dan menjadi matanya di mana ia melihat, dan menjadi tangannya di mana ia memukul, dan menjadi kakinya di mana ia berjalan. Jika ia memohon kepada-Ku, Akupasti memberinya, jika ia memohon perlindungan kepadaKu Aku pasti melindunginya.”
Karenanya al-Hakim at-Tirmidzi, salah satu sufi besar generasi abad pertengahan, menulis kitab yang sangat monumental hingga saat ini, Khatamul Auliya’ (Tanda-tanda Kewalian), yang di antaranya berisi 156 pertanyaan mengenai dunia sufi, dan siapa yang bisa menjawabnya, maka ia akan mendapatkan Tanda-tanda Kewalian itu. Beliau juga menulis kitab ‘Ilmul Auliya.
[B]Ragam Para Wali[/B]
Para Syekh Sufi membagi macam para Wali dengan berbagai versi, termasuk derajat masing-masing di hadapan Allah Ta’ala. Dalam kitab Al-Mafakhirul Aliyah fi al-Ma’atsir asy-Syadzilyah disebutkan ketika membahas soal Wali Quthub. Syekh Syamsuddin bin Katilah Rahimahullaahu Ta’ala menceritakan: “Saya sedang duduk di hadapan guruku, lalu terlintas untuk menanyakan tentang Wali Quthub. “Apa makna Quthub itu wahai tuanku?” Lalu beliau menjawab, “Quthub itu banyak. Setiap muqaddam atau pemuka sufi bisa disebut sebagai Quthub-nya.
Sedangkan al-Quthubul Ghauts al-Fard al-Jami’ itu hanya satu. Artinya bahwa Wali Nuqaba’ itu jumlahnya 300. Mereka itu telah lepas dari rekadaya nafsu, dan mereka memiliki 10 amaliyah: empat amaliyah bersifat lahiriyah, dan enam amaliyah bersifat bathiniyah. Empat amaliyah lahiriyah itu antara lain:
1) Ibadah yang banyak, 2) Melakukan zuhud hakiki, 3) Menekan hasrat diri, 4) Mujahadah dengan maksimal. Sedangkan lelaku batinnya: 1) Taubat, 2) Inabat, 3) Muhasabah, 4) Tafakkur, 5) Merakit dalam Allah, 6) Riyadlah. Di antara 300 Wali ini ada imam dan pemukanya, dan ia disebut sebagai Quthub-nya.
Sedangkan Wali Nujaba’ jumlahnya 40 Wali. Ada yang mengatakan 70 Wali. Tugas mereka adalah memikul beban-beban kesulitan manusia. Karena itu yang diperjuangkan adalah hak orang lain (bukan dirinya sendiri). Mereka memiliki delapan amaliyah: empat bersifat batiniyah, dan empat lagi bersifat lahiriyah: Yang bersifat lahiriyah adalah 1) Futuwwah (peduli sepenuhnya pada hak orang lain), 2) Tawadlu’, 3) Menjaga Adab (dengan Allah dan sesama) dan 4) Ibadah secara maksimal. Sedangkan secara Batiniyah, 1) Sabar, 2) Ridla, 3) Syukur), 4) Malu.
Adapun Wali Abdal berjumlah 7 orang. Mereka disebut sebagai kalangan paripurna, istiqamah dan memelihara keseimbangan kehambaan. Mereka telah lepas dari imajinasi dan khayalan, dan mereka memiliki delapan amaliyah lahir dan batin. Yang bersifat lahiriyah: 1) Diam, 2) Terjaga dari tidur, 3) Lapar dan 4) ‘Uzlah. Dari masing-masing empat amaliyah lahiriyah ini juga terbagi menjadi empat pula: Lahiriyah dan sekaligus Batiniyah:
Pertama, diam, secara lahiriyah diam dari bicara, kecuali hanya berdzikir kepada Allah Ta’ala. Sedangkan Batinnya, adalah diam batinnya dari seluruh rincian keragaman dan berita-berita batin. Kedua, terjaga dari tidur secara lahiriyah, batinnya terjaga dari kealpaan dari dzikrullah. Ketiga, lapar, terbagi dua. Laparnya kalangan Abrar, karena kesempurnaan penempuhan menuju Allah, dan laparnya kalangan Muqarrabun karena penuh dengan hidangan anugerah sukacita Ilahiyah (uns). Keempat, ‘uzlah, secara lahiriyah tidak berada di tengah keramaian, secara batiniyah meninggalkan rasa suka cita bersama banyak orang, karena suka cita hanya bersama Allah.
Amaliyah Batiniyah kalangan Abdal, juga ada empat prinsipal: 1) Tajrid (hanya semata bersama Allah), 2) Tafrid (yang ada hanya Allah), 3) Al-Jam’u (berada dalam Kesatuan Allah, 3) Tauhid.
Ragam lain dari para Wali ada yang disebut dengan Dua Imam (Imamani), yaitu dua pribadi, salah satu ada di sisi kanan Quthub dan sisi lain ada di sisi kirinya. Yang ada di sisi kanan senantiasa memandang alam Malakut (alam batin) -- dan derajatnya lebih luhur ketimbang kawannya yang di sisi kiri --, sedangkan yang di sisi kiri senantiasa memandang ke alam jagad semesta (malak). Sosok di kanan Quthub adalah Badal dari Quthub. Namun masing-masing memiliki empat amaliyah Batin, dan empat amaliyah Lahir. Yang bersifat Lahiriyah adalah: Zuhud, Wara’, Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar. Sedangkan yang bersifat Batiniyah: Kejujuran hati, Ikhlas, Mememlihara Malu dan Muraqabah.
Wali lain disebut dengan al-Ghauts, yaitu seorang tokoh agung dan tuan mulia, di mana seluruh ummat manusia sangat membutuhkan pertolongannya, terutama untuk menjelaskan rahasia hakikat-hakikat Ilahiyah. Mereka juga memohon doa kepada al-Ghauts, sebab al-Ghauts sangat diijabahi doanya. Jika ia bersumpah langsung terjadi sumpahnya, seperti Uwais al-Qarni di zaman Rasul SAW. Dan seorang Qutub tidak bisa disebut Quthub manakala tidak memiliki sifat dan predikat integral dari para Wali.
Al-Umana’, juga ragam Wali adalah kalangan Malamatiyah, yaitu mereka yang menyembunyikan dunia batinnya, dan tidak tampak sama sekali di dunia lahiriyahnya. Biasanya kaum Umana’ memiliki pengikut Ahlul Futuwwah, yaitu mereka yang sangat peduli pada kemanusiaan.
Al-Afraad, yaitu Wali yang sangat spesial, di luar pandangan dunia Quthub.
Para Quthub senantiasa bicara dengan Akal Akbar, dengan Ruh Cahaya-cahaya (Ruhul Anwar), dengan Pena yang luhur (Al-Qalamul A’la), dengan Kesucian yang sangat indah (Al-Qudsul Al-Abha), dengan Asma yang Agung (Ismul A’dzam), dengan Kibritul Ahmar (ibarat Berlian Merah), dengan Yaqut yang mememancarkan cahaya ruhani, dengan Asma’-asma, huruf-huruf dan lingkaran-lingkaran Asma huruf. Dia bicara dengan cahaya matahati di atas rahasia terdalam di lubuk rahasianya. Ia seorang yang alim dengan pengetahuan lahiriah dan batiniyah dengan kedalaman makna yang dahsyat, baik dalam tafsir, hadits, fiqih, ushul, bahasa, hikmah dan etika. Sebuah ilustrasi yang digambarkan pada Sulthanul Aulioya Syeikhul Quthub Abul Hasan Asy-Syadzily – semoga Allah senantiasa meridhoi .
Sufinews.com
12:54 PM | Labels: tasawuf | 0 Comments
Mendzolimi Diri Sendiri
Sufinews.com
Ada ungkapan agung dan cukup menggugat, dari Syeikh Abul Hasan asy-Syadzili, “Janganlah hatimu digelisahkan oleh urusan makhluk, sebab gelisah karena urusan makhluk berarti anda telah mendzolimi diri sendiri. Orang yang menzolimi diri tidak bisa jadi imam”
Hikmah yang indah. Bermilyar manusia gelisah dan risau, memang karena urusan dengan makhluk. Padahal makhluk adalah sumber kegelisahan dan kerisauan. Kenapa kita tidak gelisah jika urusan Allah terlantar, terbengkelai, teledor?
Makhluk meyeret nafsu kita. Sedangkan Allah memanggil hati kita. Makhluk membayangi dan mengganggu hati kita, sedangkan Allah mencahayai hati kita. Allah mengingat kita, sehingga kita mengingatNya. Apakah anda ingin tidak diingat Allah, sehingga anda mengabaikan Dzikrullah?
Bertahun-tahun kita aniaya hati kita, kita penjara ruh kita, bahkan kita lukai dan pedang dunia, betapa dzolim kita ini. Tak ada yang membebaskan kita kecuali anmpunan dan rahmatNya kepada kita.
12:52 PM | Labels: tasawuf | 0 Comments
Kisah Al Qomah
Aisyah ra pernah bertanya kepada Nabi Muhammad SAW : “hak siapakah yang paling utama atas wanita? beliau bersabda : (hak) suaminya. Aku bertanya : dan atas laki-laki? beliau bersabda : ibunya.“(HR Ahmad dan An-Nasai)
Pada masa Rasulullah ada seorang pemuda yang bernama Al-Qomah, ia sangat rajin beribadah. Suatu hari ia tiba-tiba jatuh sakit keras dan dalam kondisi sakaratul maut, maka isterinya menyuruh orang memanggil Rasulullah dan mengabarkan tentang hal tersebut.
Ketika berita ini sampai kepada Rasulullah, maka Rasulullah menyuruh Bilal r.a, Ali r.a, Salamam r.a dan Ammar r.a supaya pergi melihat keadaan Al-Qomah. Ketika mereka sampai ke rumah Al-Qomah, mereka membantu Al-Qomah untuk membacakan kalimah La-ilaa-ha-illallah, tetapi lidah Al-Qomah tidak mampu mengucapkannya.
Melihat kejadian ini, para sahabat meminta Bilal ra untuk memberitahu Rasulullah.Sesampai dirumah Rasulullah, Bilal menceritakan kondisi Al-Qomah. Lalu Rasulullah bertanya kepada Bilal; “Wahai Bilal apakah ayah Al-Qomah masih hidup?” jawab Bilal r.a, ” Tidak, ayahnya sudah meninggal, tetapi ibunya masih hidup dan sangat tua usianya”. Kemudian Rasulullah SAW, berkata kepada Bilal; “Pergilah kamu kepada ibunya dan sampaikan salamku, dan katakan kepadanya kalau dia dapat berjalan, suruh dia datang menemuiku, kalau dia tidak dapat berjalan katakan aku akan kerumahnya”.
Ketika Bilal sampai di rumah ibu Al-Qomah, ia berkata seperti yang telah disampaikan Rasulullah kepadanya, maka ibu Al-Qomah berkata; “Aku lebih patut pergi berjumpa Rasulullah”. Lalu ibu Al-Qomah mengangkat tongkat dan terus berjalan menuju ke rumah Rasulullah. Bertanya Nabi Muhammad SAW. kepada ibu Al-Qomah; “Terangkan kepada ku perkara yang sebenarnya tentang Al-Qomah, jika kamu berdusta niscaya akan turun wahyu kepadaku”. Berkata Nabi lagi; “Bagaimana keadaan Al-Qomah?”, jawab ibunya; “Ia sangat rajin beribadah, ia sholat, berpuasa dan sangat suka bersedekah sebanyak-banyaknya sehingga tidak diketahui banyaknya”. Bertanya Rasulullah; “Bagaimana hubungan kamu dengan dia?”, jawab ibunya; ” Aku murka kepadanya”, lalu Rasulullah bertanya; “Mengapa”, jawab ibunya; “Kerana ia mengutamakan istrinya dari aku, dan menurut kata-kata isterinya sehingga ia menentangku”.
Maka Rasulullah berkata; “Murka kamu itulah yang telah mengunci lidahnya dari mengucap La iilaa ha illallah”, kemudian Nabi Muhammad SAW menyuruh Bilal mencari kayu api untuk membakar Al-Qomah. Ketika ibu Al-Qomah mendengar perintah Rasulullah lalu ia bertanya; “Wahai Rasulullah, engkau hendak membakar putera ku didepan mataku?, bagaimana hatiku dapat menerimanya”. Kemudian Nabi Muhammad SAW berkata; “Wahai ibu Al-Qomah, siksa Allah itu lebih berat dan kekal, oleh itu jika kamu mahu Allah mengampunkan dosa anakmu itu, maka hendaklah kamu mengampuninya”, demi Allah yang jiwaku ditangannya, tidak ada guna sholatnya, sedekahnya, selagi kamu murka kepadanya”. Maka ibu Al-Qomah berkata sambil mengangkat kedua tangannya; “Ya Rasulullah, aku persaksikan kepada Allah dilangit dan kau Ya Rasulullah dan mereka-mereka yang hadir disini bahwa aku ridha pada anakku Al-Qomah”.
Maka Rasulullah mengarahkan Bilal pergi melihat Al-Qomah sambil berkata; “Pergilah kamu wahai Bilal, lihat apakah Al-Qomah dapat mengucapkan La iilaa ha illallah atau tidak”. Rasulullah berkata lagi kepada Bilal ; “Aku kuatir kalau kalau ibu Al-Qomah mengucapkan itu semata-mata kerana pada aku dan bukan dari hatinya”. Maka ketika Bilal sampai di rumah Al-Qomah tiba-tiba terdengar suara Al-Qomah menyebut; “La iilaa ha illallah”. Lalu Bilal masuk sambil berkata; “Wahai semua orang yang berada disini, ketahuilah sesungguhnya murka ibunya telah menghalangi Al-Qomah dari mengucapkan kalimah La iila ha illallah, kerana ridha ibunyalah maka Al-Qomah dapat menyebut kalimah syahadat”. Maka matilah Al-Qomah setelah dia mampu mengucap kalimah tersebut.
Maka Rasulullah Muhammad SAW pun sampai di rumah Al-Qomah sambil berkata; “Segeralah mandi dan kafankan”, lalu Nabi Muhammad SAW mensholatkannya dan sesudah jenazah al-Qomah dikuburkan,Nabi Muhammad SAW sambil berdiri dekat kubur berkata; “Hai sahabat Muhajirin dan Anshar, barang siapa yang mengutamakan isterinya daripada ibunya maka ia adalah orang yang dilaknat oleh Allah SWT, dan tidak diterima daripadanya ibadat fardhu dan sunatnya.
8:34 PM | Labels: Kisah sahabat tabiin kyai ulama | 0 Comments
Akhirnya Aku Buang Ilmu Hikmah dan Kanuragan (Badrul Munir / 34 Th - Mantan Guru Kedigdayaan)
Akhirnya Aku Buang Ilmu Hikmah dan Kanuragan
Saturday, 07 June 2008 04:07 Hits: 11868 Email Print PDFSuka10
Badrul Munir / 34 Th - Mantan Guru Kedigdayaan
Jika Anda memiliki pertanyaan, “apa bedanya antara Sufi dan dukun? ”Sodorkan saja pertanyaan itu ke Badrul Munir. Pasalnya lelaki lajang kelahiran Bogor, yang akrab disapa Munir itu, sebelum bertarekat, ia lama berjibaku di dunia
paranormal, kadigdayan atau ilmu hikmah.
Ilmu Supranatural yang dimiliki Munir sebenarnya effect dari kesungguhannya mendalami Silat Cimande, satu dari empat aliran pencak silat tanah Pasundan. Tiga aliran lainnya adalah Cikalong, Sabandar dan Sera.Kemampuannya memperagakan jurus-jurus pencak silat yang sudah dikenalkan oleh seorang pendekar bernama Kahir sejak tahun 1760 ini membuatnya merasa perlu mendalami ilmu kebal dan ilmu kehadiran atau ilmu hikmah.
Berbagai guru dari berbagai daerah seperti Sukabumi, Cianjur dan Banten, dengan berbagai keahlian, didatanginya. Aneka ragam amalan dari yang berbahasa Jawa, Sunda sampai Arab ia dawam-kan dengan tujuan disegani kawan dan tak dapat dijatuhkan lawan.
Kesohoran Munir sebagai guru silat dan hikmah yang “digdaya” mulai menggema gaungnya, setidaknya dilihat dari jumlah muridnya yang mencapai hingga ratusan orang, atau tamu yang sowan kepadanya mulai dari yang minta penglaris, pengasih sampai calon Bupati yang minta dukungan kadigdayan agar dapat memenangkan pemilihan. Terlebih, guru muda ini selalu tampil terdepan disetiap penggerebegan tempat-tempat judi dan maksiat di daerahnya.
Hanya bermodalkan bacaan-bacaan sejenis, Yaahuu jabardas-jabardis yartatas keris Soleman, den kaya keris mengkana landhepe tangan ingsun, lalu tangan menggebrak meja, musuh akan menjadi ciut dan gagu,atau hanya dengan menggebrak tangan kanan diatas tanah, puluhan lawan yang menyerang akan terpelanting, kocar-kacir, tidak keruan.“Praktis. Setiapmalam saya tidur hanya dua jam cuma untuk meladenitamu yang terus berdatangan,” kata Munir mengenang.
Diantara amalan dan wiridan yang dimiliki, Munir lebih tertarik untuk mengamalkan Hizb Khofiy, Hizb Bahr danHizb Nashor karya Imam Abul Hasan Asy-Syadziliy. Mungkin karena alasan “kedahsyatan kekuatan” didalamnya, ketiga hizb itu mendapat tempat istimewa dihati Munir. Tidak hanya itu, dalam diri Munirada dorongan kuat untuk mengenal siapa Imam Abul Hasan Asy-Syadziliy. “Ada sejenis invisible hand yang mendorong saya untuk mengenal lebih jauh sosok AbulHasan Asy-Syadziliy, penulis ketiga hizb yang sering saya wiridkan tersebut” tutur Munir.
Pucuk dicita ulam tiba. Dari Majalah Cahaya Sufi, Munir menemukan runtutan silsilah Imam Abul Hasan Asy-Syadziliy pada seorang Mursyid Pengasuh Pesulukun Tarekat Agung (PETA) di Tulung Agung Jawa Timur. Tanpa pikir panjang, mantan mahasiswa IAIN Jakarta ini langsung pergi ke Tulung Agung, dengan satu harapan ia dapat mengasah dan mempertajam lagi ketiga hizib yang sudah rutin diwiridkannya. Sepanjang perjalanan menuju Tulung Agung, Munir memimpikan ketiga hizibnya itu, ibarat sebuah sebuah keris, akan dapat lebih memancarkan pamornya, kelaksekembalinya dari Tulung Agung.
Apa yang didapatinya setibanya di pondok PETA ? Munirdianjurkan untuk suluk, berbai-at dan diminta membuang semua ilmu hikmah atau kanuragan yang pernah dipelajarinya. Sebagai gantinya, ia hanya diberitahu tiga hal yang harus dimohonkannya kepada Allah Swt; Terang hati; Tetap Iman; Selamat didunia dan akhirat, termasuk ketika mewiridkan tiga hizb favoritnya itu. “Ach, apa iya ?,” Munir membatin waktu itu.
Tak mudah awalnya bagi Munir menerima anjuran tersebut, terutama ketika dirinya diminta untuk membuang ilmu kanuragan nya. Ia merasa eman sebab ilmu-ilmu itu didapati nya melalui proses yang panjang, berkeringat dan berdarah-darah. Ia malah lebih memilih memperdalam kedigdayaan ketimbang menyelesaikan studi S1 nya. Apalagi jika dilihat dari sisimateri dan status sosial, mantan aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyyah ini telah mendapatkan semuanya dan merasa nyaman dengan ilmu-ilmu beraroma wingit-mistik dan silat Cimandenya, yang bersilsilah dari Kahir, Rangga, Ace Naseha, H. Abdul Shamad, H. Idris, H. Adjid, H. Zarkasih, H. Niftah dan H. R.A. Sutisna, yang dipunyai itu. [pagebreak]
Mendapat penjelasan bahwa lelaku yang dijalaninya selama ini telah melesat jauh dari hal-hal yang diridlai oleh Allah Swt; berpuasa, tapi tujuannya agar dikunjungi banyak tamu; dapat membuat tubuhnya kebal dari timah panas dan benda-benda tajam. Munir hanya bisa diam, tersipu.
Sesaat kemudian, Munir pun menyadari bahwa ilmu kehadiran yang dipunyainya lebih banyak dibantu oleh kekuatan gaib terutama yang datang dari bangsa jin. Hal ini bisa dilihat ketika ilmu kehadiran nya bekerja, betapa orang yang “dihadiri” (baca; dirasuki), suaranya tiba-tiba berubah menjadi datar tanpa intonasi; kekuatan fisiknya melebihi kekuatan yang sebenarnya; tatapan matanya pun tajam, kosong lurus kedepan; pada tingkatan tertentu orang yang kerasukan mampu berbuat sesuatu yang tak lazim seperti terbang atau melempar benda yang beratnya hingga mencapai ton-tonan hanya dengan sebelah tangan dengan sekali gerakan saja; matanya mendelik hingga hanya terlihat kelopak putihnya saja dan seterusnya. Munir kembali terdiam, tersipu.
Sejak suluk kali pertamanya itulah, ia buang seluruh amalan, semua wiridan yang pernah dipunyainya sebelumnya.
Kini, setelah beberapa kali suluk, Munir mulai memahami pelajaran pertama yang didapatinya ketikabaru menapaki Dunia Sufi yakni: Terang hati; Tetap Iman; Selamat didunia dan akhirat. “Tiga hal itu, saya rasa modal pertama dan paling utama untuk setiap manusia yang hidup didunia,” tuturnya. “Tanpa itu semua, manusia akan selalu terjerembab pada jurang-jurang kekonyolan,” tambahnya.
Sesudah beberapa kali mendapat ijazah amalan-amalan tarekat syadziliyyah ia semakin merasakan dirinya bukan apa-apa selain seorang hamba yang lemah, penuh hina dan dina. Ia semakin merasa malu jika ada dorongan halus yang mendorongnya untuk bertanya apakah hatinya sudah bersih dan suci atau sudah di maqom manakah ia kini berada.
Munir juga sangat ketat mewaspadai dirinya dari setiap vested interest yang tanpa disadari bisa merasuki siapa saja termasuk pengamal tarekat sekalipun. Ia tak ingin terperosok pada kekeliruan yangpernah dialaminya, menggunakan “jurus zikir” kepada setiap orang yang datang meminta bantuan batinnya. “Saya geli bercampur sedih ketika melihat ada diantara jamaah tarekat syadziliyyah yang masih sok bergaya dukun, memberi jaminan bahwa kalau dzikir tertentu dibaca sekian kali, maka maksudnya (seperti naik pangkat, ngusir jin, banyak murid atau ramai pembeli) akan tercapai,” ungkap Munir yang kalau saja muak kepada sesama dibolehkan agama ia akan muak (terutama) kepada para pengamal tarekat yang selalu disibukkan oleh urusan-urusan wirid dengan perasaan seolah-olah tengah melakukan kebaikan padahal semua yang dilakukannya itu (sebenarnya merupakan lakulampah dunia para dukunyang) selalu digantungkan pada khasiat, mujarab, bisa begini dan bisa begitu.
Ketika Cahaya Sufi menanyakan kenapa Munir masih mengajarkan Silat Cimande, alasan utama yang disampaikannya karena Guru Ruhaninya, Syeikh Sholahuddin, memintanya untuk terus menularkan kepada orang lain, disamping Silat Cimande yang ada saat ini sudah dibersihkan dari ritual mistik. “Silat Cimande yang saya tularkan sekarang ini tidak lebih dari sebuah amanat dalam membangun dan mengembangkan kepribadian dan karakter mulia anak-anak muda dikampung ini, Mas. Silat itu cuma sebagai sarana mengajak teman-teman (muda) untuk secara bersama-sama “mengunjungi” Allah, Mas,”beber Munir.
Meski sudah lebih dari enam kali bersuluk, sikapnya secara syar’i masih tetap terbilang wajar. Hanya sajamemang, ia semakin tegas menjaga jiwa dan nuraninya agar tidak terkotori oleh pengaruh keindahan dan hiruk pikuk dunia. Ia juga selalu menjaga agar tidak berlebihan baik dalam ucapan, tindakan, hasrat dan keinginan.
Yang pasti. berlama-lama bersama Badrul Munir akan membawa kita untuk merenungkan sebuah hadist Nabi Saw: “Betapa banyak amal ibadah yang tampak bersifat ukhrawi tapi sebenarnya duniawi....”
from sufinews.com
8:28 PM | Labels: tasawuf | 1 Comments
Wasiat Syeikh Abul Hasan Asy-Asyadzily tentang Wirid
Dikutip dari Sufinews.com
Wirid atau kebiasaan ubudiyah orang-orang shiddiqin itu ada dua puluh macam:
1-Puasa,
2-Shalat,
3-Dzikir,
4-Membaca Al-Qur’an,
5-Menjaga tubuh (dari tindakan haram)
6-Mencerca nafsu dari syahwatnya,
7-Amar ma’ruf
8-Nahi munkar
[B]Semua kategori tersebut didasarkan pada:[/B]
9-Zuhud terhadap dunia
10-Tawakkal kepada Allah
11-Ridha pada keputusan Allah
12-Cinta yang murni yang didasarkan empat perkara:
13-Iman
14-Tauhid
15-Niat yang benar
16-Cita-cita yang luhur.
Namun semua ini tak bisa diharapkan kecuali dengan empat karakter di bawah ini:
17-Ilmu
18-Wara’
19-Takut penuh rindu kepada Allah
20-Tawadhu’ kepada sesama hamba Allah.
Ibadah para shiddiqin (ungkapan ini mengutip fatwa gurunya) ada dua puluh macam:
Makanlah kamu sekalian; minumlah; berpakaianlah; bepergianlah; menikahlah; bertempat tinggallah; letakkanlah segala hal pada porsi yang sesuai dengan perintah Allah Swt.; janganlah berlebih-lebihan; beribadahlah kepada Allah dan bersyukur kepada-Nya; seharusnya Anda sekalian mencegah bencana; menanggung beban; mencurahkan kebajikan. Semua ini merupakan separo kecerdasan.
Separo yang lain adalah: menunaikan kewajiban-kewajiban; menjauhi larangan-larangan; ridha terhadap qadha Allah;
Dan diantara ibadah kepada Allah adalah tafakkur terhadap perintah Allah; sedangkan berpegang teguh kepada agama Allah merupakan dasar ibadah dan zuhud duniawi. Sedang prinsip utamanya adalah tawakkal kepada Allah.
Ini semua merupakan ibadah orang-orang yang sehat jiwanya dari orang-orang yang beriman. Kalau Anda sakit jiwa, maka carilah kesembuhan dan pembebasan melalui para Ulama; namun pilihlah diantara mereka ini yang taqwa, yang senantiasa memberi petunjuk dan bertawakkal kepada Allah.
Aku pernah bertanya kepada guruku tentang wirid ahli hakikat. Sang guru menjawab, “Engkau harus menggugurkan hawa nafsu, dan senantiasa mahabbah kepada Allah.”
Memang, cinta itu menolak untuk digunakan oleh pecinta kepada selain yang dicintainya.
Suatu ketika ada seseorang yang bertanya kepada guru --semoga Allah merahmatinya -- “Berilah saya amalan dan wirid-wirid.”
Lantas guru marah dan berkata, “Apakah aku ini Rasul? Lalu memberi perintah kewajiban-kewajiban? jelas, segala yang fardhu itu sudah maklum, segala larangan itu sudah populer. Karena itu jagalah kefardhuan, dan tolaklah kemaksiatan, jagalah hatimu dari hasrat duniawi dan hasrat pada wanita, mencintai kedudukan serta memprioritaskan syahwat. Terimalah apa yang telah diberikan Allah Swt. kepadamu. Apabila ada jalan keluar menuju ridha bagimu, bersyukurlah. Bila yang keluar adalah jalan siksaan, maka bersabarlah. Cinta kepada Allah itu merupakan pusat dimana segala kebaikan berpusat padanya. Cinta itu merupakan dasar dari ragam karamah. Untuk membentengi semua itu perlu ada empat macam:
Wara’ yang benar;
Niat yang benar;
Amal yang ikhlas dan
Bersahabat dengan pengetahuan.
Ini semua pun tidak akan sempurna kecuali dengan berguru pada orang yang shalih atau berguru kepada syeikh yang bisa mensukseskannya.
Dikutip dari Sufinews.com
12:49 AM | Labels: tasawuf | 1 Comments
Ketenangan Hati
Sudan lama Abu nawas tidak dipanggil ke istana untuk menghadap Baginda.
Abunawas juga sudah lama tidak muncul di kedai teh. Kawan-kawan Abunawas
banyak yang merasa kurang bergairah tanpa kehadiran Abu nawas. Tentu saja
keadaan kedai tak semarak karena Abu nawas si pemicu tawa tidak ada.
Suatu hari ada seorang laki-laki setengah baya ke kedai teh menanyakan Abu
nawas. la mengeluh bahwa ia tidak menemukan jalan keluar dari rnasalah pelik
yang dihadapi.
Salah seorang teman Abunawas ingin mencoba menolong.
"Cobalah utarakan kesulitanmu kepadaku barang-kali aku bisa membantu." kata
kawan Abunawas.
"Baiklah. Aku mempunyai rumah yang amat sempit. Sedangkan aku tinggal
bersama istri dan kedelapan anak-anakku. Rumah itu kami rasakan terlalu
sempit sehingga kami tidak merasa bahagia." kata orang itu membeberkan
kesulitannya.
Kawan Abunawas tidak mampu memberikan jalan keluar, juga yang lainnya.
Sehingga mereka menyarankan agar orang itu pergi menemui Abunawas di
rumahnya saja.
Orang itu pun pergi ke rumah Abunawas. Dan kebetulan Abu Nawas sedang
mengaji. Setelah mengutarakan kesulitan yang sedang dialami, Abunawas
bertanya kepada orang itu.
"Punyakah engkau seekor domba?"
"Tidak tetapi aku mampu membelinya." jawab orang itu.
"Kalau begitu belilah seekor dan tempatkan domba itu di dalam rumahmu."
Abunawas menyarankan.
Orang itu tidak membantah. la langsung membeli seekor domba seperti yang
disarankan Abunawas.
Beberapa hari kemudian orang itu datang lagi menemui Abu Nawas.
"Wahai Abunawas, aku telah melaksanakan saranmu, tetapi rumahku
bertambah sesak. Aku dan keluargaku merasa segala sesuatu menjadi lebih
buruk dibandingkan sebelum tinggal bersama domba." kata orang itu mengeluh.
"Kalau begitu belilah lagi beberapa ekor unggas dan tempatkan juga mereka di
dalam rumahmu:" kata Abunawas.
Orang itu tidak membantah. la langsung membeli beberapa ekor unggas yang
kemudian dimasukkan ke dalam rumahnya. Beberapa hari kemudian orang itu
datang lagi ke rumah Abu Nawas.
"Wahai Abu Nawas,aku telah melaksanakan saran-saranmu dengan menambah
penghuni rumahku dengan beberapa ekor unggas. Namun begitu aku dan
keluargaku semakin tidak betah tinggal di rumah yang makin banyak
perighuninya. Kami bertambah merasa tersiksa." kata orang itu dengan wajah
yang semakin muram.
"Kalau begitu belilah seekor anak unta dan peliharalah di dalam rumahmu."kata
Abu Nawas menyarankan
Orang itu tidak membantah. la langsung ke pasar hewan membeli seekor anak
unta untuk dipelihara di dalam rumahnya.
Beberapa hari kemudian orang itu datang lagi menemui Abu Nawas. la berkata,
"Wahai Abu Nawas, tahukah engkau bahwa keadaan di dalam rumahku sekarang
hampir seperti neraka. Semuanya berubah menjadi lebih mengerikan dari pada
hari-hari sebelumnya. Wahai Abu Nawas, kami sudah tidak tahan tinggal
serumah dengan binatang-binatang itu." kata orang itu putus asa.
"Baiklah, kalau kalian sudah merasa tidak tahan maka juallah anak unta itu."
kata Abu Nawas.
Orang itu tidak membantah. la langsung menjual anak unta yang baru
dibelinya.
Beberapa hari kemudian Abu Nawas pergi ke rumah orang itu
"Bagaimana keadaan kalian sekarang?" Abu Nawas bertanya.
"Keadaannya sekarang lebih baik karena anak unta itu sudah tidak lagi tinggal
disini." kata orang itu tersenyum. "Baiklah, kalau begitu sekarang juallah
unggas-unggasmu." kata Abu Nawas.
Orang itu tidak membantah. la langsung menjual unggas-unggasnya.
Beberapa hari kemudian Abu Nawas mengunjungi orang itu.
"Bagaimana keadaan rumah kalian sekarang ?" Abu Nawas bertanya.
"Keadaan sekarang lebih menyenangkan karena unggas-unggas itu sudah tidak
tinggal bersama kami." kata orang itu dengan wajah ceria.
"Baiklah kalau begitu sekarang juallah domba itu." kata Abu Nawas.
Orang itu tidak membantah. Dengan senang hati ia langsung menjual
dombanya.
Beberapa hari kemudian Abu Nawas bertamu ke rumah orang itu. la bertanya,
"Bagaimana keadaan rumah kalian sekarang ?" "Kami merasakan rumah kami
bertambah luas karena binatang-binatang itu sudah tidak lagi tinggal bersama
kami. Dan kami sekarang merasa lebih berbahagia daripada dulu. Kami
mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepadamu hai Abu Nawas." kata
orang itu dengan wajah berseri-seri.
"Sebenarnya batas sempit dan luas itu tertancap dalam pikiranmu. Kalau
engkau selalu bersyukur atas nikmat dari Tuhan maka Tuhan akan mencabut
kesempitan dalam hati dan pikiranmu." kata Abu Nawas menjelaskan.
Dan sebelum Abu Nawas pulang, ia bertanya kepada orang itu,
"Apakah engkau sering berdoa ?"
"Ya." jawab orang itu.
"Ketahuilah bahwa doa seorang hamba tidak mesti diterima oleh Allah karena
manakala Allah membuka pintu pemahaman kepada engkau ketika Dia tidak
memberi engkau, maka ketiadaan pemberian itu merupakan pemberian yang
sebenarnya."
Dikutip dari : Kisah Abu Nawas
Posted by : Dermaga hati bagas
Tags : Allah,Muhammad,Tasawuf,Hikam,Athaillah,Ibnu,Kisah
teladan,Sahabat,tabiin,kyai,Syadzili,hasan
5:31 AM | Labels: kisah Teladan | 0 Comments
APAKAH SURGA ITU ABADI???
Banyak sekali tuduhan2 terhadap ulama2 sufi bahwa kaum sufi tidak mengharapkan surga sedangkan dalam Al Quran banyak sekali ayat2 yang menyebutkan imbalan orang2 yg beriman adalah surga Allah, diantara ayat2 itu adalah :
“Innalladziina aamanuu wa’amiluushshaalihaati ulaaika hum khairul bariyyah”
“Jazaa’uhum ‘inda rabbihim jannatu ‘adnin tajri mintahtihal anhaaru khaalidiina fiihaa ‘abadaa….”
“Sesungguhnya orang2 yang beriman & mengerjakan amal yg sholeh merekalah sebaik2nya makhluk”
“Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya……….. “(Al Bayyinah: 98, ayat 7-8)
Sedangkan diantara ucapan kaum sufi saya ambilkan contoh munajat Rabi’ah Ad Da’wiyah : “Ya Allah jika aku mengharap surga-Mu dan menghindar dari neraka-Mu maka binasakanlah diriku”
Mereka beranggapan ucapan2 kaum sufi ini menyesatkan, bid’ah dan lain sebagainya.Nah mari coba kita telaah bersama dengan pandangan terbuka bukan dengan pandangan kontekstual belaka dan tentu saja dengan hati yg selalu mengharap ridho-Nya.Salah satu ayat Al Quran menyebutkan segala sesuatu hakikinya adalah fana’(tiada) :
“Kullu man ‘alaihaa faan”
“Wa Yabqaa Wajhu rabbika Dzul jalaali wal ikraam”
Semua yang ada itu akan binasa
Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan(
Nah didalam ayat ini menunjukkan yg sebenarnya kekal hakiki hanyalah Allah SWT bagaimanapun keabadian surga adalah karena menerima sifat keabadiaan yang maha Abadi.Untuk mempermudah pemahaman kita sebagian ulama sufi kekekalan/keabadiaan menjadi 2:
1.Kekal Ardhi : Kekal karena menerima sifat kekal dari yang Maha Kekal
Contoh : Ruh,Surga,Neraka,Malaikat dsbnya
2.Kekal Hakiki : Kekal memang kekal yg sebenarnya, keabadian-Nya tidak terpengaruh oleh waktu dan zaman dan tidak menerima kekal dari siapapun dan sesuatu apapun.Yaitu zat yg Maha Agung Allah SWT.
Ungkapan2 seperti sufi agung Rabi’ah Ad da’wiyah bukannya mengingkari akan surga dan neraka justru sebalik yang mereka saksikan dan mereka tuju hanyalah Allah SWT,Sang Pencipta surga dan neraka.bagaimana mungkin bintang & bulan akan terlihat ketika mentari bersinar dengan begitu terangnya.Apakah mungkin akan berpaling sang kekasih ketika telah meneguk anggur cinta dari-Nya.
Walaupun tidak salah orang yang beribadah mengharapkan surga akan tetapi peribadatan ini haruslah disandarkan pada Allah SWT,Sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadits:"ketika seorang 'abid beribadah selama 500 tahun memohon surga karena amalan-amalannya begitu banyak,akan tetapi Allah semata-mata memasukkan surga bukan karena amalannya tetapi karena karunia dan rahmat-Nya".(Untuk lebih lengkapnya kisah ini dapat dilihat pada arsip blog dgn judul :menggapai surga dg rahmat Allah)
Tetapi terkadang kebanyakan orang dalam beribadah masih diikuti oleh keinginan2 dan syahwat2 halus apalagi pengandaian terhadap surga diandaikan dengan pemuasan ragawi kita :
misalnya :“cewek itu cantiknya bukan main,apalagi bidadari disurga ya”waah2 bisa 2 pikiran kita jadi tambah mesum(he2222)
Sedangkan mereka yang hanya mengharap ridho & cinta Allah bisa terlepas dari keinginan2 tersebut.Tentu saja untuk menggapai keridhoan dan Cinta Allah dibutuhkan latihan2/riyadhoh dan cobaan2 yg berat sehingga kita menyadari sepenuhnya bahwasanya semua itu dari Allah.termasuk Riyadhoh2 yg dilakukan tak lepas dari karunia Allah SWT.
Untuk urusan ini Penulis sendiri sih kelasnya masih kelas kambing(haaaaa2x)
Saya akhiri tulisan ini dengan mengutip ungkapan hikmat dari Shaikh Abdul Qadir Al jilani : “Jika Surga dan neraka tak tercipta mampukah kamu sujud ikhlas kepada-Nya”
Hanya kepada Allah kita berserah diri!!!
Wallaahu a’lamu bishowaab
Posted by dermagahati bagas
Tag : Allah,Muhammad,Tasawuf,Hikam,Athaillah,Ibnu,Kisah,teladan,
Sahabat,tabiin,kyai,Syadzili,hasan
5:18 AM | Labels: tasawuf | 0 Comments
Muraqabah
Allah ma'ii Allah naazhiri ilayya Allah Syaahidii (Allah menyyertaiku,Allah melihatku,Allah menyaksikanku)inilah salah satu kalimah Seorang ulama sufi yg diajarkan kepada salah seorang muridnya.sebuah kalimat sederhana yang mengajarkan diri untuk selalu merasa diawasi oleh Allah.yah memang setiap saat setiap jiwa2 manusia tak lepas dari pengawasan-Nya.Jika seorang hamba selalu merasa diawasi oleh sang pencipta tak ada lagi tempat untuk bermaksiat kepada-Nya.Karena setiap sudut setiap tempat bahkan hati yg berbisikpun tak lepas dari pengawasan-Nya.Saya nukilkan kisah Shaikh Junaid sbb:
Junaid Al-Baghdadi, seorang tokoh sufi, mempunyai anak didik yang amat ia senangi. Santri-santri Junaid yang lain menjadi iri hati. Mereka tak dapat mengerti mengapa Syeikh memberi perhatian khusus kepada anak itu.
Suatu saat, Junaid menyuruh semua santrinya untuk membeli ayam di pasar untuk kemudian menyembelihnya. Namun Junaid memberi syarat bahwa mereka harus menyembelih ayam itu di tempat di mana tak ada yang dapat melihat mereka. Sebelum matahari terbenam, mereka harus dapat menyelesaikan tugas itu.
Satu demi satu santri kembali ke hadapan Junaid, semua membawa ayam yang telah tersembelih. Akhirnya ketika matahari tenggelam, murid muda itu baru datang, dengan ayam yang masih hidup. Santri-santri yang lain menertawakannya dan mengatakan bahwa santri itu tak boleh melaksanakan perintah Syeikh yang begitu mudah.
Junaid lalu meminta setiap santri untuk menceritakan bagaimana mereka melaksanakan tugasnya. Santri pertama berkata bahwa ia telah pergi membeli ayam, membawanya ke rumah, lalu mengunci pintu, menutup semua jendela, dan membunuh ayam itu. Santri kedua bercerita bahwa ia membawa pulang seekor ayam, mengunci rumah, menutup jendela, membawa ayam itu ke kamar mandi yang gelap, dan menyembelihnya di sana. Santri ketiga berkata bahwa ia pun membawa ayam itu ke kamar gelap tapi ia juga menutup matanya sendiri. Dengan itu, ia fikir, tak ada yang dapat melihat penyembelihan ayam itu. Santri yang lain pergi ke hutan yang lebat dan terpencil, lalu memotong ayamnya. Santri yang lain lagi mencari gua yang amat gelap dan membunuh ayam di sana.
Tibalah giliran santri muda yang tak berhasil memotong ayam. Ia menundukkan kepalanya, malu karena tak dapat menjalankan perintah guru, “Aku membawa ayam ke rumahku. Tapi di rumahku tak ada tempat di mana Dia tak melihatku. Aku pergi ke hutan lebat, tapi Dia masih bersamaku. Bahkan di tengah gua yang teramat gelap, Dia masih menemaniku. Aku tak boleh pergi ke tempat di mana tak ada yang melihatku.
Semoga Allah mengkaruniakan sifat muraqabah kepada kita sehingga limpahan kecintaan-Nya selalu menyertai kita.
By :dermagahati bagas
Allah,Muhammad,tasawuf,syadzili,al,ibnu,athaillah,kisah,teladan,hikam
11:59 PM | Labels: tasawuf | 0 Comments
Karomah Sulthonul auliya shaikh Abu Hasan Asy Syadzili
Sulthonul Auliya' Syaikh Abul Hasan Asy Syadzili ra adalah seorang yang dianugerahi karomah yang sangat banyak, tidak ada yang bisa menghitung karomahnya kecuali Allah SWT. Dan sebagian dari karomah beliau antara lain adalah :
a. Pengikut thoriqoh Syadziliyah telah dipilih di lauhil mahfudz
b. Pengikut thgoriqoh syadziliyah apabila jadzab/majdub akan cepat kembali seperti sedia kala.
c. Seluruh Wali Qutub yang diangkat sesudah masa syaikh Abul Hasan Asy Syadzili ra akan diambil dari golongan ahli thoriqoh Sadziliyah.
Allah,muhammad,kisah,tabiin,swt,kyai,ibnu
,hati,dermaga,bagas,athaillah,al,syadzili,sahabat,hikam
tasawuf,sragen,teladan
11:44 PM | Labels: Kisah sahabat tabiin kyai ulama | 24 Comments
Sekedar..........
Waaah dah lama nggak OL.Doain saya ya!!!!hampir jadi bapak, semoga terlahir anak yg sholih dan sholihah amiin yaa robbal Alamiin.
By the Way 1 th ini telah menikah 2 x. pertama dengan istri saya tercinta kedua dengan thariqah syadziliyyah yg semoga saya selalu istiqomah berjalan dijalurnya.alhamdulillahi Rabbil Alamiin, Amiin Amiin Ya Rabbal Aalamiin.
Bagi para pembaca yang tertarik ikut di jalur syadziliyyah yang dinisbahkan namanya dari Syeikh Qutb Agung Abu Hasan Asy Syadzili salah satunya dapat menghubungi
Pondok PETA Tulungagung
Jalan Wahid Hasyim No 27 tulungagung
posted by dermagahatibagas
d7ia53xhsn
8:39 PM | Labels: Serba serbi | 0 Comments
SANDARKAN NIAT HANYA PADA ALLAH SWT
“‘An `Umar ibnul khatthab radhiyallahu `anhu qaala sami`tu Rasuulullahi Shalallaahu `alaihi Wassalaam yaquulu : innamal a`malu binniyah,wa innamaa li imrii maa nawaa faman kaanat hijratuhu ilallaahi wa rasuulihi fahijrotuhu ilallaahi warasuulihi waman kaanat hijratuhu ilaa dunyaa yushiibuhaa au imraatin yatazawajjuhaa,fahijratuhu ilaa maa hajara ilaihi (Bukhari wal Muslim)
dari `Umar bin khatthab radhiyallaahu `anhu berkata saya mendengar Rasulullah bersabda : sesungguhnya tiap amal itu tergantung pada niatnya dan setiap perkara itu itu tergantung apa yg diniatkannya maka barang siapa yg hijrahnya tulus karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrah itu diterima Allah dan Rasul-Nya.Dan siapa yg niat hijrahnya untuk dunia yg dikejarnya atau wanita yg akan dinikahinya maka niat hijrah itu terhenti pada apa yg ia tuju(hadits riwayat Bukhari Muslim)
niat merupakan hal yg sangat mendasar dalam peribadatan dan segala perbuatan kita.sebagaimana yg dijelaskan hadits diatas yg secara lahirnya melakukan perbuatan yg sama tetapi sangat berbeda disisi Allah dikarenakan niatnya.
Nah,sekarang kalau dikaitkan dengan kehidupan dan cara pandang umum kebanyakan masyarakat selama ini(saya ambil contoh2 yg saya ketahui dengan pengetahuan hamba yg sangat terbatas ini) :
1. Bahwasanya niat perbuatan jahat selama tidak dilakukan maka dosanya tidak akan dicatat.(tidak dilakukan perhitungan amal) nah pandangan kebanyakan orang semacam ini akan meringankan betapa pentingnya niat saya ambilkan sebuah contoh :”seseorang yg berniat/berkeinginan untuk berzina akan tetapi dia seorang yg masih melakukan sholat dan belum melakukan perbuatan zina tersebut,terkadang ketika sholat keinginan perbuatan maksiyat tersebut selalu berkeliaran dalam pikirannya.Wah kalau begini kan jadi repot sholatpun hancur dan tak bernilai disisi-Nya”
2. Seorang yg berniat kemudian merasa bisa dengan kekuatannya sendiri mampu melaksanakan niat tersebut dan hasilnya diserahkan pada Allah SWT lupa bahwasanya kekuatan untuk melaksanakan segala sesuatu adalah karunia Allah semata. “Laa haula walaa quwwata illa billah”Tiada daya dan kekuatan kecuali kehendak Allah
3. Seorang yg berniat melaksanakan perbuatan baik akan tetapi mengalami kebingungan dan kebimbangan manakala niat tersebut sulit/tidak terlaksana, lupa bahwasanya sesuatu itu tak lepas dari Qadar-Nya.”Innallaaha `alaa kulli syaiin qadiir”Sesungguhnya Allah menguasai segala sesuatu.
Sebagaimana kalam hikmat al hikam ibnu Athaillah :
TIDAK SIA-SIA SESUATU MAKSUD APABILA DISANDARKAN KEPADA ALLAH S.W.T DAN TIDAK AKAN TERCAPAI TUJUAN JIKA DISANDARKAN KEPADA DIRI SENDIRI.
hamba Allah s.w.t yang mempunyai maksud yang baik ternyata gagal melaksanakan maksudnya apabila dia bersandar kepada kekuatan dirinya sendiri karena Allah s.w.t yang menetapkan sesuatu perkara, hanya Dia saja yang dapat mengubahnya. Segala kekuatan, baik dan buruk, semuanya datang daripada-Nya. Oleh yang demikian jika mahu menghadapi sesuatu kekuatan yang datang dari-Nya mestilah juga dengan kekuatan-Nya. Kekuatan yang paling kuat bagi menghadapi kekuatan yang dipunyai oleh dunia ialah kekuatan berserah diri kepada Allah s.w.t. Kembalikan semua urusan kepada-Nya. Rasulullah s.a.w telah memberi pengajaran dalam menghadapi bencana dengan ucapan dan penghayatan:
"Inna lillahi wa inna ilaihi raaji`uun"Kami datang dari Allah. Dan kepada Allah kami kembali
Tak ada jalan terbaik dalam segala niat,gerak, dan perbuatan kita selain berserah diri total kepada Allah.maksud menyerah diri kepada Allah s.w.t, bersandar kepada-Nya dan menyerahkan segala urusan kepada-Nya mesti difahami dengan mendalam yaitu : “minallaahi billaahi ilaallaahi”dari Allah dengan Allah untuk Allah bahwasanya yg menggerakkan niat dan melaksanakan hal yg berkenaan dengan niat tersebut adalah Allah SWT dan segala sesuatunya adalah untuk Allah SWT.
Ya Allah Ya Tuhanku jadikanlah kami termasuk golongan orang2 yg berserah diri kepada-Mu.Amiin ya Rabbal`alamiiin.
Referensi : Al quran,Al lu`lu wal marjan : penyusun Muhammad fuad `Baqi,Al hikam : penyusun Ibnu Athaillah,Kedai sufi kang luqman : K.H Luqman Hakim
iaqyjvfe7c
dermaga,bagas,athaillah,al,syadzili,sahabat,hikam
tasawuf,sragen,teladan
5:00 PM | Labels: Ya Allah Ya Rabbal `Alamiin | 0 Comments
Al qomah dibakar Rasulullah SAW
Begitu melihat keadaan Al-Qamah tergolek diranjangnya, Nabi bertanya kepada isteri Al-Qamah :"Masihkah kedua orang tuanya?" tanya Nabi.
"Masih ya Rasulullah," tetapi tinggal ibunya yang sudah tua renta," jawab isterinya."
Di mana dia sekarang?"
"Di rumahnya, tetapi rumahnya jauh dari sini."
Tanpa banyak bicara , Rasulullah SAW lalu mengajak sahabatnya menemui ibu Al-Qamah mengabarkan anaknya yang sakit parah. "Biarlah dia rasakan sendiri", ujar ibu Al-Qamah. "Tetapi dia sedang dalan keadaan sekarat, apakah ibu tidak merasa kasihan kepada anakmu ?" tanya Nabi.
"Dia berbuat dosa kepadaku," jawabnya singkat.
"Ya, tetapi maafkanlah dia. Sudah sewajarnya ibu memaafkan dosa anaknya," bujuk Nabi.
"Bagaimana aku harus memaafkan dia ya Rasulullah jika Al-Qamah selalu menyakiti hatiku sejak dia memiliki isteri," kata ibu itu.
"Jika kau tidak mau memaafkannya, Al-Qamah tidak akan bisa mengucap kalimat syahadat, dan dia akan mati kafir," kata Rasulullah.
"Biarlah dia ke neraka dengan dosanya," jawab ibu itu. Merasa bujukannya tidak berhasil meluluhkan hati ibu itu, Rasulullah lalu mencari kiat lain. Kepada sahabat Bilal Nabi berkata : "Hai bilal, kumpulkan kayu bakar sebanyak-banyaknya," perintah Nabi.
"Untuk apa kayu bakar itu Rasulullah," tanya Bilal keheranan."Akan kugunakan untuk membakar Al-Qamah, dari pada dia hidup tersiksa seperti itu, jika dibakar dia akan lebih cepat mati, dan itu lebih baik karena tak lama menanggung sakit", jawab Rasulullah. Mendengar perkataan Nabi itu, ibu Al-Qamah jadi tersentak. Hatinya luluh membayangkan jadinya jika anak lelaki di bakar hidup-hidup. Ia menghadap Rasulullah sambil meratap, "Wahai Rasulullah, jangan kau bakar anakku," ratapnya. Legalah kini hati Rasulullah karena bisa meluluhkan hati seorang ibu yang menaruh dendam kepada anak lelakinya. Beliau lalu mendatangi Al-Qamah dan menuntunya membaca talkin. Berbeda dengan sebelumnya, mulut Al-Qamah lantas bergerak membacakan kalimat dzikir membaca syahadat seperti yang dituntunkan Nabi. Jiwanya tenang karena dosanya telah diampuni ibu kandungnya. Al-Qamah kemudian menghembuskan nafasnya yang terakhir dengan fasih mengucapkan kalimat syahadat. Ia meninggal dalam keadaan khusnul khatimah. Memang, surga adalah di bawah telapak kaki ibunda.
4:57 PM | Labels: Muhammad Shalallaahu `Alaihi Wasallaaam | 0 Comments
RASULULLAH SAW DAN SEORANG ARAB BADAWI
PADA suatu masa, ketika Nabi Muhammad SAW sedang tawaf di Kaabah, baginda mendengar seseorang di hadapannya bertawaf sambil berzikir: “Ya Karim! Ya Karim!”
Rasulullah SAW meniru zikirnya “Ya Karim! Ya Karim!”
Orang itu berhenti di satu sudut Kaabah dan menyebutnya lagi “Ya Karim! Ya Karim!” Rasulullah yang berada di belakangnya menyebutnya lagi “Ya Karim! Ya Karim!”
Orang ituberasa dirinya di perolok-olokkan, lalu menoleh ke belakang dan di lihatnya seorang lelaki yang sangat tampan dan gagah yang belum pernah di lihatnya.
Orang itu berkata, “Wahai orang tampan, apakah engkau sengaja mengejek-ngejekku, kerana aku ini orang badwi? Kalaulah bukan kerana ketampanan dan kegagahanmu akan ku laporkan kepada kekasihku, Muhammad Rasulullah.”
Mendengar kata-kata orang badwi itu, Rasulullah SAW tersenyum lalu berkata: “Tidakkah engkau mengenali Nabimu, wahai orang Arab?”
“Belum,” jawab orang itu.
“Jadi bagaimana kamu beriman kepadanya?” tanya Rasulullah SAW.
“Saya percaya dengan mantap atas kenabiannya, sekalipun saya belum pernah melihatnya, dan membenarkan perutusannya walaupun saya belum pernah bertemu dengannya,” jawab orang Arab badwi itu.
Rasulullah SAW pun berkata kepadanya: “Wahai orang Arab, ketahuilah aku inilah Nabimu di dunia dan penolongmu nanti di akhirat.”
Melihat Nabi di hadapannya, dia tercengang, seperti tidak percaya kepada dirinya lalu berkata, “Tuan ini Nabi Muhammad?” “Ya,” jawab Nabi SAW.
Dengan segera orang itu tunduk dan mencium kedua-dua kaki Rasulullah SAW.Melihat hal itu Rasulullah SAW menarik tubuh orang Arab badwi itu seraya berkata, “Wahai orang Arab, janganlah berbuat seperti itu. Perbuatan seperti itu biasanya dilakukan oleh seorang hamba sahaya kepada tuannya. Ketahuilah, Allah mengutus aku bukan untuk menjadi seorang yang takbur, yang minta dihormati atau diagungkan, tetapi demi membawa berita gembira bagi orang yang beriman dan membawa berita menakutkan bagi yang mengingkarinya.”
Ketika itulah turun Malaikat Jibril untuk membawa berita dari langit, dia berkata, “Ya Muhammad, Tuhan As-Salam menyampaikan salam kepadamu dan berfirman: “Katakan kepada orang Arab itu, agar tidak terpesona dengan belas kasih Allah. Ketahuilah bahawa Allah akan menghisabnya di Hari Mahsyar nanti, akan menimbang semua amalannya, baik yang kecil mahupun yang besar.”
Setelah menyampaikan berita itu, Jibril kemudian pergi. Orang Arab itu pula berkata, “Demi keagungan serta kemuliaan Tuhan, jika Tuhan akan membuat perhitungan atas amalan hamba, maka hamba pun akan membuat perhitungan denganNya.”
Orang Arab badwi berkata lagi, “Jika Tuhan akan memperhitungkan dosa-dosa hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa kebesaran magfirahNya. Jika Dia memperhitungkan kemaksiatan hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa luasnya pengampunanNya. Jika Dia memperhitungkan kebakhilan hamba, maka hamba akan memperhitungkan pula betapa dermawanNya.”
Mendengar ucapan orang Arab badwi itu, maka Rasulullah SAW pun menangis mengingatkan betapa benarnya kata-kata orang Arab badwi itu sehingga air mata meleleh membasahi janggutnya.
Lantaran itu Malaikat Jibril turun lagi seraya berkata, “Ya Muhammad, Tuhan As-Salam menyampaikan salam kepadamu dan berfirman: “Berhentilah engkau daripada menangis, sesungguhnya kerana tangisanmu , penjaga Arasy lupa bacaan tasbih dan tahmidnya, sehingga ia bergoncang. Sekarang katakan kepada temanmu itu, bahawa Allah tidak akan menghisab dirinya, juga tidak akan menghitung kemaksiatannya. Allah sudah mengampunkan semua kesalahannya dan akan menjadi temanmu di surga nanti.”
Betapa sukanya orang Arab badwi itu, apabila mendengar berita itu dan menangis kerana tidak berdaya menahan rasa terharu.
dikutip dari : kisah islam
4:50 PM | Labels: Muhammad Shalallaahu `Alaihi Wasallaaam | 0 Comments
RASULULLAH SAW DAN PENGEMIS YAHUDI BUTA

4:45 PM | Labels: Muhammad Shalallaahu `Alaihi Wasallaaam | 0 Comments
Saya alumnus SMU 1 Sragen
Weeeeh saya lupa kalau memasukkan tag smu dan sragen di technorati,yaaaah jadi asal isi aja!!!he22 saya lahir di sragen,tk di sragen,sd di sragen,smp5 sragen, trus smu 1 sragen,pokoknya serba sragen.Smu lulusan tahun berapa ya???nggak usah saya sebutkan termasuk angkatan tua ,jadi kangen masa2 smu dulu.gmana yah kabar temen2 smu 1 sragen skarang?????
9:31 AM | Labels: Serba serbi | 0 Comments
Kisah Keislaman Saad bin Abi Waqqash

Di zaman Rasulullah tersebutlah seorang pemuda berusia tujuh belas tahun yang bernama Saad bin Abi Waqqash. Suatu hari pemuda itu berkata, "Pada suatu malam, di tahun ini, saya bermimpi seolah-olah tenggelam di dalam kegelapan yang bertumpuk-tumpuk. Ketika saya terbenam di dalam kegelapan itu, tiba-tiba ada cahaya bulan yang menerangiku. Saya kemudian mengikuti arah cahaya itu dan saya dapati di sana ada sekelompok manusia, di antara mereka terdapat Zaid bin Haritsash, Ali bin Abi Thalib, dan Abu Bakar Ash-Shidiq. Saya bertanya, "Sejak kapan kalian ada di sini?" Mereka menjawab, "Satu jam."
Manakala siang telah muncul, saya mendengar suara dakwah Muhammad saw. kepada Islam. Saya meyakini bahwa saya sekarang berada di dalam kegelapan dan dakwah Muhammad saw. adalah cahaya itu. Maka, saya pun mendatangi Muhammad dan aku dapati orang-orang yang kujumpai dalam mimpi, ada di samping beliau. Maka, aku pun masuk Islam.
Tatkala ibu Sa'ad mengetahui hal ini, dia mogok makan dan minum, padahal Sa'ad sangat berbakti kepadanya sehinga dia merayunya setiap waktu mengharapkannya untuk mau makan walau hanya sedikit, tapi ibunya menolak. Manakala Sa'ad melihat ibunya tetap teguh berpendirian, dia berkata kepadanya, "Wahai ibu! Sesungguhnya saya sangat cinta kepadamu, namun saya lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya. Demi Allah, seadainya engkau mempunyai seratus nyawa lalu keluar dari dirimu satu persatu, aku tidak akan meninggalkan agamaku ini demi apapun juga."
Tatkala sang ibu melihat keteguhan hati anaknya, dia pun menyerah lalu kembali makan dan minum meskipun tidak suka. Allah kemudian menurunkan ayat tentang mereka yang artinya, "Jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kaum mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik." (Luqmaan: 15)
Maha Benar Allah yang Maha Agung.
Sumber: Asyabalunal 'Ulama (65 Kisah Teladan Pemuda Islam Brilian), Muhammad Sulthan.
10:22 AM | Labels: Kisah sahabat tabiin kyai ulama | 0 Comments
Sebungkus Kurma Abu Aqil
Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Abu Aqil sedemikian resah seperti hari itu. Dia tenggelam dalam fikirannya tanpa mempedulikan apa yang terjadi di sekitarnya. Dia seolah-olah tidak mendengar bunyi apapun dan tidak melihat sesuatupun. Dia melangkah ke arah rumahnya dengan cepat. Matanya memandang tanah dan mulutnya kelihatan komat-kamit mengatakan sesuatu. Dia melewati lorong sempit sebelum akhirnya tiba ke rumahnya. Dengan menarik nafas yang dalam, Abu Aqil lalu bersandar di sebatang pohon tua di tengah halaman rumah.
Isterinya menyadari kekhawatiran yang melanda suaminya itu dan bertanya, “Suamiku, apa yang terjadi?” Abu Aqil kemudian berjalan masuk ke rumahnya. Karena kelelahan, dia bersandar ke dinding rumahnya, lalu berkata, “Musuh Tuhan berniat untuk memerangi kita. Tentara muslim sudah disiagakan untuk melawan musuh. Tetapi, tentara kita tidak punya bekal dan makanan. Kami sedang berada di masjid ketika Nabi membacakan sebuah ayat suci Al-Quran dan meminta kaum muslimin untuk memberikan bantuan sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing kepada tentara Islam.”
Isteri Abu Aqil bertanya, “Apakah bunyi ayat itu?” Abu Aqil menutup matanya dan setelah berpikir sejenak, dia membaca ayat ke-11 dari surat Al-Hadiid yang artinya, “Siapa saja yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, akan diberi Allah balasan pinjaman yang berlipatganda dan dia akan memperoleh pahala yang banyak.”
Isterinya dengan pandangan kecewa menatap lantai ruangan kamar dan berkata, “Engkau adalah pemimpin rumah ini dan engkau lebih mengetahui bahwa kita tidak punya harta dan simpanan apapun untuk kita berikan di jalan Tuhan. Abu Aqil menjawab, “Tetapi, kita harus turut melibatkan diri dalam tugas ini. Tidakkah engkau ketahui bahwa perbuatan ini disenangi oleh Tuhan dan Rasul-Nya?”
Abu Aqil melanjutkan perkataannya, “Ayat ini sangat menyentuh perasaanku sehingga aku segera pulang ke rumah. Hari ini semua orang Islam membawa apa yang mereka miliki kepada Nabi Muhammad saaw agar permintaan Tuhan terpenuhi.” Isterinya tersenyum dan dia mengambil salah satu bejana dan mengeluarkan segenggam kurma sambil berkata kepada Abu Aqil, “Kita mempunyai sedikit kurma. Ambillah dan berikan kurma ini kepada Nabi.”
Abu Aqil tertegun dan mengguman sendirian, “Apa yang bisa diperbuat dengan kurma ini? Tetapi ini lebih baik daripada tidak memberi sesuatupun.” Isterinya lantas menaruh kurma itu dalam sebuah kain bersih dan memberikannya kepada Abu Aqil. Dengan gembira, Abu Aqil berkata, “Meskipun kurma ini tidak tampak berguna tetapi ia dapat dimanfaatkan di medan perang.”
Halaman kecil masjid ramai dipenuhi umat muslimin. Abu Aqil berada di antara mereka. Dengan langkah yang lemah, dia memperhatikan bahwa ada beberapa ekor biri-biri, kambing, dan unta terikat di luar masjid. Abu Aqil menyadari bahwa hewan-hewan itu merupakan hadiah dari orang ramai. Dia juga melihat orang-orang yang berkumpul di dalam masjid dengan hadiah besar dan kecil di tangan mereka. Abu Aqil merapatkan bungkusan yang berisi kurma ke dadanya dan dia berjalan masuk ke dalam masjid.
Melihat banyaknya kaum muslimin yang berdatangan menyerahkan hadiahnya kepada Nabi SAWW, kaum munafikin merasa tidak senang, dan muncul kebencian di dalam hati mereka, yang mendorong mereka untuk mengejek setiap orang yang menyerahkan sedekah dan bantuan kepada Nabi. Orang yang memberikan bantuan dalam jumlah besar, mereka ejek sebagai pamer, tidak ikhlas dan mengharap pujian. Sedangkan orang yang memberikan bantuan dalam jumlah sedikit, mereka ejek dengan mengatakan, "Allah dan Rasul-Nya tidak memerlukan bantuan kamu."
Melihat sikap orang-orang munafik itu, Abu Aqil sempat beberapa kali ingin mengambil keputusan untuk pulang ke rumahnya dan menjauhkan diri dari pandangan para pengganggu itu. Tetapi ada kekuatan dalam dirinya yang menghalanginya untuk pulang. Akhirnya dia duduk diam-diam di sudut masjid. Dilihatnya Nabi Muhammad SAWW duduk di tepi mihrab dan menerima hadiah-hadiah dari umatnya. Dia berharap dalam hati, alangkah baiknya jika dia mempunyai simpanan yang lebih pantas untuk diberikan kepada Nabi.
Tiba-tiba, masjid yang semula dipenuhi dengan suara ramai dilanda kesepian dan kesunyian. Abu Aqil memandang kepada Rasulullah. Rupanya, Rasul sedang menerima wahyu. Rasulullah SAWW menutup mata dan wajahnya seolah-olah sedang tenggelam dalam cahaya yang bersinar. Semua sahabat memahami keadaan Nabi ini dan menanti sampai Rasul selesai menerima wahyu.
Rasulullah kemudian membuka matanya dan dengan langkah yang perlahan beliau bergerak ke arah Abu Aqil. Jantung Abu Aqil berdebar-debar dan dia berusaha untuk menyembunyikan bungkusan kurmanya. Lalu, terdengar suara Rasulullah yang memecah kesunyian masjid, “Wahai manusia, baru saja Jibril menyampaikan wahyu dari Allah kepadaku. Ketahuilah bahwa para malaikat yang berada di langit, memandang bumi untuk menyaksikan pinjaman siapakah yang terbaik di sisi Tuhan.”
Rasulullah kemudian meletakkan tangannya ke atas pundak Abu Aqil dan berkata, “Ketahuilah, hadiahmu lebih berharga dari emas di sisi Tuhan. Orang munafik yang mencelamu dan menyebabkan hatimu sakit, kelak akan diberi azab. Wahai Abu Aqil, para malaikat sedang menanti, berikan hadiah itu kepadaku dan ketahuilah bahwa Allah ingin agar aku menggembirakanmu. Engkau hari ini disenangi oleh Allah.”
Abu Aqil masih tidak percaya, dia merasa seolah-olah sedang bermimpi, sebuah mimpi yang amat manis. Rasulullah dengan penuh kasih sayang mengambil bungkusan kurma tersebut dari tangannya dan membelai kepala Abu Aqil. Ketika itu pula Rasul membacakan ayat ke-79 surah Taubah yang artinya, “Orang-orang munafik yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan mencela orang-orang yang tidak memiliki apapun untuk disedekahkan selain dari yang disanggupinya. Allah akan membalas penghinaan mereka itu dan bagi mereka azab yang pedih.”
9:55 AM | Labels: Kisah sahabat tabiin kyai ulama | 1 Comments
Ya Musthafa (Sami Yusuf)
Ya Mustafa ya Mustafa ya Mustafa
Allahumma salli 'alal Mustafa
(O Allah send your blessings on the Chosen One)
Mustafa Mustafa Mustafa
Solo
You're our prophet,
Our beloved,
Truly you are,
Most just and kind (3)
Chorus
Allahumma salli 'alal Mustafa
Mustafa Mustafa Mustafa
Ya Mustafa ya Mustafa ya Mustafa
You're the Guide
Sent by Allah
To lead us
Towards the light (3)
Chorus
In your manners
And in your deeds
All the Prophets
You did exceed (3)
8:43 AM | Labels: Muhammad Shalallaahu `Alaihi Wasallaaam | 0 Comments
Muhammad (sammi yusuf)
Every day I see the same headlines
Crimes committed in the name of the divine
People committing atrocities in his name
They murder and kidnap with no shame
But did he teach hatred, violence, or bloodshed? No... Oh No
He taught us about human brotherhood
And against prejudice he firmly stood He loved children, their hands he’d hold
And taught his followers to respect the old
So would he allow the murder of an innocent child? Oh No...
CHORUS:
Muhammad ya rasulallah Muhammad ya habiballah Muhammad ya khalilallah Muhammad
Muhammad ya rasulallah Muhammad ya shafi’allah Muhammad ya bashirallah Ya rasulallah
Muhammad the light of my eyes About you they spread many lies
If only they came to realise Bloodshed you despise
8:15 AM | Labels: Muhammad Shalallaahu `Alaihi Wasallaaam | 1 Comments

